12 janvier 2020

Review Film NKCTHI: Mengkritisi Pola Didik Asian Parents yang Otoriter dan Cenderung Tertutup

Tiga bersaudara

Sebenarnya sebelum memutuskan menonton film NKCTHI, saya sempat merasa ragu. Apalagi mengingat buku NKCTHI bukan buku seperti pada umumnya karena isinya hanya kumpulan quotes sobat galau yang sering merasa kesepian dan nggak punya teman. Tapi hebatnya, buku ini laris manis di pasaran lho! Saking larisnya, buku ini disulap menjadi sebuah drama keluarga yang punya misi untuk membuat penonton diam-diam menghapus air matanya.

Film yang digarap oleh Angga Dwi Sasongko dan Visinema ini bercerita tentang keluarga Narendra (Oka Antara & Donny Damara) dan Ajeng (Niken Anjani & Susan Bachtiar) yang memiliki tiga orang anak. Si sulung, Angkasa, si tengah, Aurora (Sheila Dara Aisha), dan si bungsu, Awan (Rachel Amanda). Sebenarrnya sih latar belakang keluarga ini biasa-biasa saja, bahkan cenderung tidak relate seperti kenyataan hidup orang kebanyakan. Namun, film ini menunjukkan secara gamblang kepada penonton bagaimana pola didik dan asuh Asian Parent yang cenderung egois bahkan otoriter.

Sebagai anak pertama, saya paham banget betapa beratnya beban yang dipanggul oleh Angkasa. Dalam film, diceritakan Angkasa "diamanahi" tugas penting dari ayahnya, yaitu menjaga adik-adiknya agar mereka merasa aman. Bagi anak berumur 6 tahun, tugas tersebut pasti beraaaaaaat bangeeeeeet. Apalagi "beban" ini dipikulnya sampai berumur 21 tahun. Padahal kalau dipikir secara logika, adik-adiknya kan udah gede, seharusnya bisa dong menjaga dirinya sendiri?

Baca juga:  Review Film Imperfect: Seni Mencintai Diri Sendiri

Dari semua kisah yang disajikan, kisah Angkasa sangat relate dengan kehidupan saya. Sebagai anak sulung, saya kerap menjadi pihak yang "diandalkan" oleh keluarga. Mulai dari urusan sepele seperti "mengurusi rumah" (you know lah ya mengurusi rumah itu capek banget njir) sampai pada urusan yang bikin pikiran pusing tujuh keliling. Belum lagi ketika diharuskan "membantu" permasalahan adik hanya karena saya adalah kakaknya. "Kakak itu harus bisa membantu, membimbing, dan mengarahkan adiknya, apalagi kalian hanya dua bersaudara lho, jadi harus saling menjaga juga," ujar mama saya.

Dalam budaya pengasuhan Asian parents, anak sulung memang akan selalu diandalkan. Anak sulung dianggap sebagai "contoh" bagi adik dan keluarganya, sehingga nggak sedikit orang tua yang menaruh harapan berlebih kepadanya. Budaya ini sebenarnya memiliki dua mata sisi yang berlawanan. Menjadi baik karena si sulung pasti akan diberi fasilitas berlebih agar sesuai dengan harapan keluarga, tetapi menjadi kurang baik jika si sulung justru menjadi tempat bergantung bagi keluarga.

Karena diharapkan menjadi "contoh", anak sulung kerap merasa gengsi atau tidak enak hati apabila dirinya sedang rapuh. Sesedih, sekecewa, dan serunyam apapun perasaannya, anak sulung seolah-olah diharuskan bersikap baik-baik saja ketika dilanda masalah. Bahkan ada juga yang menganggap bahwa anak sulung tidak boleh terlihat rapuh jika tidak ingin dianggap gagal dan cengeng.

Menurut saya, budaya ini ini toxic banget deh! Baik anak sulung, anak tengah, anak bungsu atau orang tua sekalipun, semua orang berhak untuk merasa sedih, kecewa, dan nggak baik-baik saja. It's okay not to be okay.

Keluarga Narendra

Lain Angkasa, lain pula dengan Aurora. Dalam film, Aurora dianggap sebagai anak tengah yang terpinggirkan dan terlupakan karena ayahnya terlalu sibuk memberi perhatian kepada adik bungsunya. Kehadirannya digambarkan secara misterius bahkan cenderung asing untuk menggambarkan perasaannya yang seperti ada tapi tiada (?) Namun, tokoh inilah yang menjadi inti dalam cerita. Berkat Aurora, saya jadi menyadari bahwa setiap permasalahan keluarga biasanya datang dari sebuah sebab dan trauma.

Sementara itu, Awan digambarkan sebagai anak bungsu bontot yang selalu mendapat perhatian sekaligus kekangan berlebih dari sang ayah. Entah saking sayangnya (tapi tetap saja toxic!), Awan menjadi tidak pernah bisa menentukan pilihan hidupnya sendiri. Bahkan dalam urusan pekerjaan saja, ayahnya masih ikut turun tangan demi menjamin kenyamanan anak bungsu kesayangannya.

Padahal pola didik seperti ini justru membuat anak jadi tidak mandiri bahkan cenderung minder. Okelah Awan berusaha mandiri, tapi ketika dia kehilangan pekerjaan yang diidam-idamkannya, ayahnya justru ikutan turun tangan supaya Awan kembali bekerja di perusahaan tersebut. Saya sih malu ya kalau kerja pakai "kekuatan orang dalam" alias pengaruh nama besar orang tua.

Selain itu, yang paling menarik adalah hubungan antara Pak Narendra dan Bu Ajeng. Saya selalu percaya setiap hubungan itu setara dan sudah seharusnya suami maupun istri bisa berkomunikasi secara terbuka. Tapi, hubungan kedua sejoli itu justru kebanyakan diam. Diam-diam memendam lukanya sendiri. Tidak ada komunikasi intens bahkan untuk sekadar mengutarakan perasaan. Yang penting (keliatan) bahagia aja.

Ya iya sih, bahagia itu memang perlu, tapi tidak ada salahnya lho jika sesekali bersedih. Lagipula dengan merasai kesedihan, kita jadi lebih peka dengan keadaan sekitar. Plus, saya juga sepakat banget dengan mas Angkasa bahwa "Gimana mau bahagia kalau sedih aja nggak tau rasanya kaya apa".

Meskipun belum menikah dan memiliki buah hati, tapi saya dapat memahami bahwa kehilangan seseorang yang dicintai itu berat banget. Dilan aja nggak kuat. Namun saya percaya, kehilangan seharusnya tidak perlu ditutup-tutupi apalagi dengan dalih supaya bahagia. Biarlah kehilangan itu menjadi teman dan niscaya perlahan-lahan kita jadi lebih bisa ikhlas dan menerima kenyataan.

Baca juga: Review Film Kim Ji-Young Born 1982: Perempuan Dalam Belenggu Patriarki

Overall, film NKCTHI berhasil membuat emosi saya diaduk-aduk hingga akhirnya meneteskan air mata. Selain alur cerita yang tidak membosankan, tone warna yang disuguhkan juga terasa hangat  sehingga membuat siapapun nyaman memandangnya. Akting para aktor dan aktrisnya juga wow bangeeeet terutama si Aurora.

Ngomong-ngomong, saya juga agak terkesima sih sama pesona Ardhito Pramono a.k.a Kale. Karakternya di film sekilas seperti cowok brengsek yang suka datang ketika kita lagi rapuh dan mendadak menjauh ketika kita udah nyaman, tapi sesungguhnya orang seperti Kale adalah orang sudah lelah dengan cinta dan harapan. Wajar sih, kalau mereka malas menjalin hubungan yang lebih serius jika pada akhirnya hanya merasai sakit dan kecewa.

Saya nggak 100% menyalahkan Awan, tapi memang sebaiknya jangan menaruh harapan sedemikian tinggi deh sama seseorang. Karena bisa jadi orang yang baik sama kita tuh ya karena emang dia beneran orang yang baik, bukan karena modus atau punya motif khusus. Intinya, jangan gampang baper!

Publier un commentaire

WhatsApp Button fonctionne uniquement sur les appareils mobiles

Commencez à taper et appuyez sur Entrée pour rechercher