26 décembre 2019

Review Film Imperfect: Seni Mencintai Diri Sendiri

Dika dan Rara
Setelah sebelumnya ada Cek Toko Sebelah, Susah Sinyal dan Milly Mamet, bisa dibilang film Imperfect adalah yang terbaik. Cerita-ceritanya memang tak lepas dari peran keluarga dan orang-orang terkasih lainnya. Apalagi diberi bumbu kejadian-kejadian yang sangat relate dengan kehidupan sehari-hari.

Film yang diadaptasi dari buku Imperfect: A Journey of Self-Acceptance karya Meira Anastasia, istri Koh Ernest, menceritakan tentang budaya mengomentari bentuk tubuh dan penampilan orang lain alias body shaming. Terutama bagi perempuan, sejak bangun tidur hingga menutup mata ke alam mimpi sekalipun masih harus mendapatkan komentar menyebalkan. Perempuan selalu saja diatur-atur tentang cara berdandan, berpakaian hingga bertingkah laku. Seolah-olah perempuan tidak dibebaskan untuk menentukan pilihannya sendiri.


Berawal dari tokoh Rara (diperankan oleh Jessica Mila yang rela menaikkan BB 10kg demi totalitas tanpa batas), seorang kakak yang selalu merasa insecure karena tubuhnya besar, doyan makan, dan berambut keriting. Sementara, adiknya Lulu (Yasmin Napper) adalah seorang selebgram cantik, berbadan ideal dan sering mendapat endorse produk kecantikan. Pokoknya mereka berdua beda banget deh! Sementara, sang mama yang diperankan Karina Suwandi, adalah mantan model dan tiada hari menceramahi Rara agar menjaga pola makan. Tanpa sadar, ia juga suka membanding-bandingkan kedua anak perempuannya.

Kekuatan film ini sebenarnya sama saja seperti film Koh Ernest lainnya, yaitu permasalahan keluarga. Keluarga yang sejatinya adalah tempat pulang dan berlindung, ternyata bisa jadi sumber toxic bagi penghuninya. Saya baru sadar (((banget))) ketika beberapa waktu lalu tim film Imperfect berkunjung ke kantor. Saat itu, Koh Ernest mengatakan "Pelaku terbanyak body shaming justru datang dari keluarga atau kerabat dekat sendiri".

Sebagai perempuan bertubuh bongsor, sejak dulu saya sering banget mengalami body shaming. Rasanya sudah 'kenyang' mendapatkan komentar gendut, gembrot atau gemuk setiap kali bertemu dengan kerabat bahkan tetangga. Apalagi saya termasuk orang yang jarang nongol, sudah pasti penampilan saya dianggap manglingi. Memang sih, beberapa kali saya juga dipuji, tapi entah kenapa komentar soal bentuk tubuh selalu terlontar menjadi basa-basi.

Awalnya saya memang nggak marah, lhawong saya sendiri mengakui adanya perubahan bentuk tubuh dan berat badan yang signifikan. Tapi lama-kelamaan kok komentarnya jadi ngena yaNggak selamanya lho seseorang bisa bersikap bodo amat, sebab sesekali komentar negatif ini bisa jadi sumber overthinking.

Hal ini saya rasakan banget ketika zaman skripsian dulu, ketika bentuk tubuh dan BB mulai merangkak naik nggak karuan. Seharusnya kondisi demikian dimaklumi dong namanya juga lagi stress dan butuh asupan gizi lebih, tapi nyatanya saya sering banget dikomentar perihal badan. Sedihnya, yang sering komentar adalah keluarga sendiri.

Sesungguhnya, budaya body shaming tuh 11:12 sama pertanyaan toxic kapan nikah. Nggak cuma menyebalkan dan jadi bikin ogah berinteraksi, tapi budaya ini bahkan jadi standar basa-basi paling lumrah di Indonesia! Saya nggak habis pikir deh, dari sekian banyak topik, kenapa harus bentuk badan seseorang yang dikomentari sih? Atau emang saking nggak ngertinya mau ngomong apaan, makanya bentuk tubuh jadi jurus andalan di setiap perbincangan?

Yang lebih menyedihkan, body shaming ternyata lebih sering dilakukan oleh perempan kepada sesamanya. Wow. Women support women doesn't exist right?


Rara dan Fey. Sumber: Bookshow

Kalau dalam film Imperfect, pelaku perempuan diperlihatkan oleh anak-anak hits di kantor Rara yang hobi berdandan selayaknya eksekutif muda. Tak lupa dengan stiletto heels-nya yang entah kenapa kok nggak capek ya pakai itu seharian. Mereka nggak cuma memandang 'rendah' kepada Rara dan Fey, sahabatnya, tapi juga terang-terangan melakukan body shaming. Mereka merasa, perempuan yang tidak berdandan seperti mereka tidak layak disebut sebagai perempuan seutuhnya.

Salah satu hal menarik dari film ini adalah bahwa insecure nggak cuma dirasakan oleh mereka yang (sorry to say) jelek atau gendut. Mereka yang tergolong cantik dan berbadan ideal pun masih bisa insecure lho! Coba deh lihat Lulu yang meskipun cantik dan sudah menjadi beauty influencer, tapi ia tetap merasa minder karena dikatain chubby oleh netizen di media sosial. Berkali-kali ia berkaca dan meminta dukungan pada mamanya, justru jawaban tidak mengenakkan yang ia dapatkan. Alih-alih menenangkan, respons mamanya justru membuatnya semakin tidak percaya diri.


Selain pemahaman tentang body shaming, Ernest juga piawai menyelipkan pesan-pesan mencintai diri sendiri melalui geng kost cewek di rumah Ibu Ratih (Dewi Irawan) alias ibunya Dika. Guyonan yang kocak dan menggelitik sukses membuat saya terpingkal-pingkal. Geng kost ini terdiri dari Neti (Kiky Saputri), Maria (Zsazsa Utari), Prita (Aci Resti), dan Endah (Neneng Wulandari). Kehadiran mereka semakin membuat film ini lebih hidup. Apalagi komedinya Ernest banget karena mengusung tema keberagaman.

Ditambah lagi, adanya celotehan lucu nan polos dari murid-murid Rara, membuat penonton semakin betah menyelami film hingga akhir. Saya beneran nangis sih waktu anak-anak itu membuat kejutan ulang tahun untuk Rara, ternyata yang dikasih kejutan malah lupa waktu. Begitu sampai lokasi, mereka malah sudah tertidur dengan pulasnya. Rasanya, saya jadi ikutan sedih dan kecewa.

Bisa dibilang, film ini mampu membuka mata betapa body shaming itu sungguh menyakitkan dan tidak ada bagus-bagusnya sama sekali. Meski terdengar sepele, tapi satu kalimat ejekan yang berhubungan dengan fisik seseorang nyatanya nggak hanya mempengaruhi fisik saja, melainkan juga mental orang yang mendapat ejekan tersebut.

Enregistrer un commentaire

WhatsApp Button fonctionne uniquement sur les appareils mobiles

Commencez à taper et appuyez sur Entrée pour rechercher