4 décembre 2019

Review Film Kim Ji-Young Born 1982: Perempuan dalam Belenggu Patriarki

Kim Ji-Young 1986

Sebagai penggemar film bergenre drama keluarga, saya benar-benar tidak menyangka bahwa menonton Kim Ji-Young Born 1986 sangat menguras emosi. Sepanjang film berputar, selalu muncul umpatan "anjir anjir anjir" dalam hati saya karena merasa semuanya relate dengan kehidupan sehari-hari. Bahkan ketika film telah usai, kepala saya sampai pusing memikirkan beberapa kejadian yang pernah saya alami sendiri.

Film Kim Ji-Young Born 1986 sebenarnya diadaptasi dari sebuah novel dengan judul serupa karya Cho Nam-ju. Secara singkat, film ini menceritakan tentang kehidupan Kim Ji-Young, seorang ibu rumah tangga yang kehilangan jati dirinya bahkan mengidap mental illness karena lelah menjadi istri dan ibu, tetapi tetap dituntut menjadi menantu yang "sempurna" oleh mertuanya.

Bisa dibilang, terlahir menjadi perempuan adalah kemalangan karena sepanjang hidup akan selalu diatur-atur dan ditempeli oleh stigma. Meski perempuan saat ini sudah boleh berkarier dan mengaktualisasi diri, tetapi ketika sudah menikah, perempuan akan dituntut menjadi istri yang baik, berbakti kepada suami, dan becus dalam mengurus anak.
Menurut saya, menjadi ibu rumah tangga saja sudah sangat melelahkan. Apalagi menjadi ibu rumah tangga sekaligus pekerja. Emosi saya benar-benar memuncak ketika melihat adegan guyonan seksis yang dilontarkan oleh direktur perusahaan periklanan di mana Ji-Young bekerja menjelang rapat kerja. Kebetulan, kepala divisi Ji-Young adalah perempuan independen yang memilih tetap bekerja setelah menikah. Karena itulah, ia sering mendapat ocehan-ocehan seksis nan menyebalkan dari pekerja laki-laki di kantornya, misalnya "Perempuan itu sebaiknya di rumah saja mengurus anak, supaya anaknya tumbuh jadi anak baik-baik". 

Patriarki sebagai sistem sosial yang menempatkan laki-laki di atas segalanya seringkali menyepelekan peranan perempuan. Perempuan sebagai istri dan ibu hanya dianggap sebagai "pengurus rumah" yang tidak lebih hebat dari ayah. Apabila seorang istri bekerja, peranannya hanya dianggap sebagai penyokong suami, bukan sebagai pekerja yang berperan aktif dalam perekonomian.

Hal ini membuat perempuan dibebani dengan tugas domestik yang lebih besar daripada laki-laki, sementara porsi kuasanya justru lebih kecil bahkan tidak ada sama sekali. Contoh paling nyata adalah ketika Ji-Young menelpon mertuanya dan mengatakan akan kembali bekerja karena suaminya bersedia mengambil cuti melahirkan, mertuanya justru marah dan mengomeli. Menurut sang ibu mertua, istri tidak pantas bertukar peran dengan suaminya manakala istri bekerja dan suaminya menjaga anak perempuannya di rumah.

Mengurus anak. Sumber: Cultura Magazine

Lingkungan yang patriarkis juga ditunjukkan oleh lingkungan keluarga yang selalu memperlakukan "istimewa" kepada adik laki-laki Ji-Young. Misalnya, ketika ayah Ji-Young hanya memberikan hadiah bolpen untuk anak lelakinya saja, sementara Ji-Young dan kakak perempuannya tidak mendapatkan hal yang sama. Atau ketika sang ayah hanya membelikan minuman obat herbal untuk adik laki-laki Ji-Young, padahal jelas-jelas saat itu Ji-Young sedang menderita karena "sakit". 

Contoh lain yang semakin menggambarkan bias gender dalam film ini adalah ketika Ji-Young single tidak dipilih sebagai tim yang akan meng-handle program penting di perusahaan. Ji-Young yaang merasa berkompeten lantas menanyakan hal tersebut ke atasannya. Menurut atasannya, sebenarnya tak ada alasan untuk tidak memilih Ji-Young masuk ke dalam tim yang dipimpinannya. Namun karena program tersebut adalah program jangka panjang, sehingga perusahaan tidak bisa mengajak karyawan perempuan yang mungkin berencana menikah atau mempunyai anak. Yang dipilih hanya pekerja laki-laki saja. Adegan ini menunjukkan bahwa menjadi perempuan pekerja pun masih harus menghadapi stigma, seolah-olah menjadi seorang istri dan ibu hanya akan "merepotkan" dan membuat pekerjaan jadi terbengkalai.


Semakin menyelami isi film ini, semakin membuat saya gemas tidak karuan. Sebagai seorang perempuan yang sejak kecil diatur-atur bagaimana harus bersikap dan berperilaku, saya merasa can relate ketika Ji-Young remaja sedang makan bersama keluarganya dan mengeluh tidak bersemangat melakukan apapun karena ia belum mendapatkan pekerjaan. Seharusnya, orang tua bisa membesarkan hati anaknya yang sedang galau. Namun sayangnya, perbincangan tersebut menjadi runyam tatkala sang ayah menyuruh Ji-Young di rumah saja sampai menikah.

Pernyataan ayah Ji-Young tentu bukan tanpa alasan. Dalam budaya patriarki, laki-laki adalah yang utama, sehingga apapun pencapaiannya menjadi lebih penting dan dinomorsatukan. Sementara perempuan sebagai warga kelas dua, pencapaian yang dilakukannya justru lebih sering diabaikan karena dianggap "tidak penting". Alih-alih mendapatkan apresiasi atas pencapaiannya, kebanyakan orang kurang atau belum bisa memberikan dukungan maupun respons yang positif. Fenomena inilah yang kemudian disebut sebagai mandozing.

Laki-laki yang melakukan mandozing cenderung berusaha mengontrol perempuan, termasuk bagaimana perempuan harus berperilaku hingga menentukan pilihannya sendiri. Dalam film Kim Ji-Young Born, mandozing diperlihatkan pada sosok ayah Ji-Young yang menganggap bahwa perempuan sebaiknya di rumah saja, setinggi apapun ia bersekolah dan seberapa keras ia berusaha, tapi menurutnya perempuan tetap akan berada di rumah ketika sudah menikah. 

Contoh perilaku mandozing juga terlihat saat Ji-Young mendapat omongan tidak mengenakkan dari seorang pemuda di taman. Pemuda nyinyir itu bicara "Enak sekali menghabiskan gaji suami dengan minum kopi di taman" seolah-olah menjadi ibu rumah tangga tidak berkontribusi apa pun dalam keluarga. Padahal menjadi ibu rumah tangga bukan pekerjaan yang sepele dan "gampang" seperti kelihatannya.


Film Kim Ji-Young Born 1986 termasuk salah satu film yang sangat emosional bagi saya. Banyak sekali pelajaran berharga yang saya dapatkan. Salah satunya tentang berkomunikasi kepada pasangan. Saya  yakin, meski seorang perempuan memilih menjadi ibu rumah tangga, tapi diam-diam perempuan masih memiliki cita-cita, keinginan, dan harapan yang ingin digapai. Oleh sebab itu, bagi saya, penting sekali untuk mengkomunikasikan apa pun yang saya inginkan dan saya rasakan kepada pasangan, apalagi ketika sudah menikah, sebab saya tidak ingin merasa "mati" dalam rutinitas yang menjemukan.

Seorang suami yang baik seharusnya bisa mendengarkan aspirasi dan isi hati istrinya. Jangan gampang nge-judge apalagi sampai harus melarang ini itu, sementara pendapat istri selalu diabaikan bahkan diremehkan. Saya percaya hubungan itu sifatnya setara dan dua arah, sehingga baik suami maupun istri seharusnya bisa saling mendengarkan dan mengerti satu sama lain.

Dae-Hyun, suami Ji Young. Sumber Okezone

Selain itu, saya juga terpesona sekali dengan karakter suami Ji-Young, yaitu Dae Hyun yang diperankan oleh Gong Yoo. Dae Hyun terus berusaha mendukung dan sabar menolong istrinya yang mengalami mental illness. Ia tidak pernah menyalahkan istrinya, justru ia terus berusaha membahagiakannya dan mencarikan jalan keluar bagi Ji-Young, salah satunya dengan mencarikan psikiater.

Memang sih nggak semua hal yang dilakukan Dae-Hyun bakal dimengerti dan disukai oleh Ji-Young. Tapi toh, karakter ini bisa jadi contoh baik bagi laki-laki yang hendak berumah tangga. Suami bukanlah kepala keluarga yang hanya bertugas mencari nafkah, tetapi suami juga harus ikut berkontribusi dalam pekerjaan rumah. Percayalah, kontribusi sekecil apapun adalah sumber kebahagiaan istri. Kalau istrinya bahagia, suami juga akan ikut bahagia kan?

Enregistrer un commentaire

WhatsApp Button fonctionne uniquement sur les appareils mobiles

Commencez à taper et appuyez sur Entrée pour rechercher