8 novembre 2019

Meski Kerap Dinyinyiri, Tapi Tetap Nyaman Jadi Diri Sendiri

Photo by Renato Abati from Pexels

Entah kenapa, saya kurang suka berurusan dengan make up dan berdandan. Mungkin selain merasa ribet, alasan utamanya karena saya nggak tau caranya berdandan dengan baik dan benar. Alasan lainnya? Males hehe.

Meskipun demikian, saya pernah iseng-iseng lho ikutan beauty class atau kelas kecantikan yang diselenggarakan oleh beberapa label make up. Harapannya sih, saya bisa belajar dikit-dikit soal make up dan biar bisa dibilang (((wanita seutuhnya))) dengan berdandan.

Namun kenyataannya, selama menjalani kelas, saya senewen terus. Rewel banget deh kaya bocah minta mainan! Soalnya, saya merasa cupu dan ogeb sendirian karena nggak tau cara pakai alat make up-nya! Sementara, teman kanan-kiri saya pada jago-jago amat dah dandannya. Kan saya jadi auto minder sis :(

Boro-boro bisa bikin alis yang simetris. Lhawong saya aja nggak tau bedanya pensil alis dengan eyeliner. Saking polosnya dan malu-malu kucing hendak bertanya, saya malah ngalis pakai eyeliner dong??? Aduh, bisa-bisa Suhay Salim ketawa nih liat kelakuan saya.

Meski saya merasa nggak pinter-pinter amat soal make up, entah kenapa saya masih pede-pede aja tuh ketika melihat hasilnya. Lumayan lah keliatan dandan meski nggak bisa dibilang flawless kaya temen sebelah. Toh setidaknya, saya sudah berusaha belajar.

Karena alasan-alasan itulah, saya enggan berdandan dengan tangan saya sendiri. Kalau didandani sih mau-mau aja asalkan nggak pakai bulu mata dan maskara. Marai mripate gatel!

Sehari-harinya, make up saya simpel banget. Cukup memakai skincare yang berupa moisturizer atau daily cream, bedak Marcks (ada yang masih pakai bedak ini nggak sih?) dan matte lipstik dari produk make up ber-tagline Feel the Beauty. Udah itu doang!

Kadang-kadang kalau lagi malas atau kebetulan kulit wajah lagi bruntusan, saya hanya memakai skincare ke kantor. No bedak and no lipstik. Hebatnya, kok ya saya pede aja dengan penampilan begini.

Untungnya lagi, kebetulan kantor saya tidak punya standar tertentu untuk pakaian karyawan. Mau pakai T-shirt silakan, mau bergaya ala summer vibes juga boleh, mau pakai celana pendek selutut berikut dengan sandal jepitnya agar serasa di pantai ya monggo. Karyawan dibebaskan untuk berpakaian apa saja. Asalkan, masih pantas dilihat ya. Meskipun bebas, bukan berarti pantas pakai bikini juga kan???

Kecuali kalau hari itu bakal ada event atau harus ketemu klien, maka saya juga harus bisa menyesuaikan dong. Pakaian saya yang tadinya kelihatan kayak mau main dan sering dicibir orang-orang "Kok ke kantor pakai kaos?" atau "Kamu mau kerja atau main sih?" seketika penampilan saya berubah bak wanita karier. Soal make up? Oh, tentu saja tetap pakai make up sehari-hari yang serba simpel dan gampang dilakukan.

Salah satu kebiasaan saya yang mungkin nggak banget bagi beberapa perempuan adalah saya tuh jarang banget nyemprot parfum! Memang sih, saya punya parfum yang harganya cukup menguras jatah jajan cilok, tapi entah kenapa kok ya suka males gitu. Kadang-kadang suka merasa "eman" sebab harganya yang mahal huhu.

Lagipula, semua baju saya selalu disemprot dengan pewangi super dulu sebelum disetrika. Bahkan setelah dicuci pun, baju-baju saya selalu direndam pakai pewangi pakaian sebelum dibilas dan dijemur. Jadi, saya pede-pede aja sih kalau nggak pakai parfum. Tetep wangi kok sampai nanti sore~

Baca juga: Caraku Membebaskan Diri dari Toxic

Saya mengakui, saya memang bukan tipe orang yang ribet dan menganggap bahwa penampilan harus perfect atau kelihatan lebih cantik dari yang lain. Aduh, memikirkannya saja, saya udah males (lagi). Ngapain sih harus cari atensi demi sebuah eksistensi? Yaudalah ya, jadi diri sendiri aja. Kalau saya nyamannya begini, kenapa orang lain yang bawel?

Tapi, kadang-kadang mama saya sering mengomeli "kebandelan" saya sebagai anak perempuan. Anak perempuan kok gini, anak perempuan kok gitu. Jadi perempuan itu ya harus A, jangan B. Hadeeeeeeh soto babat.

Bayangkan saja nih, kawan-kawan, tiap kali hendak ke pasar yang jaraknya cuma sebelahan sama rumah saya, mama selalu ngomel "Mbok yang rapi to, pakai baju yang bagus" ketika mendapati saya hanya memakai celana pendek dan kaos oblong. Astaga dragon, memangnya di pasar saya bakal ketemu siapa sih? HRD? Presiden? Orang-orang di pasar juga nggak peduli sama penampilan saya keleus.

Sebetulnya, saya masih fine-fine aja sih kalau dibilang nggak pinter pakai make up selayaknya perempuan lain. Saya masih pede aja ke mana-mana tanpa make up. Tapi, kalau urusannya cara berpakaian yang harus mengikuti standar orang-orang, saya bisa kesal sampai ubun-ubun.

Contohnya saja ketika wisuda tahun lalu. Mama saya memang selalu mengusahakan anak-anak perempuannya tampil istimewa di hari yang juga istimewa. Oleh sebab itu, demi kebutuhan wisuda, kami menjahitkan kebaya di sebuah butik. Niatnya sih, biar bisa seragaman ala girl’s squad gitu.

Pada awalnya, saya memang ditanya mau pakai model kebaya yang seperti apa. Ketika sudah memilih, ternyata saya berbeda selera dengan mama saya. Walhasil, kebayanya pun dibuat berdasarkan selera mama (dan tentunya si penjahit itu sendiri) tanpa mempertimbangkan pendapat saya. Lah, padahal kan saya yang mau wisuda? Saya juga yang bakal pakai kebayanya seharian? Kenapa saya jadi harus mengikuti kemauannya mama saya? 

Saat fitting, rasanya sebal banget dan hampir mau nangis. Hasil jahitannya memang bagus, tapi kalau tidak sesuai dengan keinginan saya tetap saja mengecewakan. Dan rasa sebal ini semakin menjadi-jadi ketika hari H wisuda datang. Sudah bajunya tidak sesuai, saya masih saja merasa ribet tuntutan make up ini itu. Ngomong-ngomong, siapa sih yang bikin "aturan tidak tertulis" bahwa wisuda tuh wajib ber-make up total?

Kebetulan wisuda lalu, saya menggunakan jasa make up rias pengantin yang kebetulan adalah tetangga saya. Tadinya, saya malah berniat mau make up sendiri tapi dilarang mama dengan alasan ini momen spesial, jadi dandanannya juga harus spesial. Yowes, okelah tapi dengan syarat harus sesuai dengan kemauan saya. Mama saya setuju.
Ketika proses make up dimulai, saya sudah bilang nggak mau pakai bulu mata palsu karena gatal dan menganggu pandangan saya yang berkacamata. Tapi, tetap saja si ibu rias penganten memaksa. Katanya, "Nanggung lho mbak. Lebih cantik kalau pakai bulu mata". Lah itu kan menurut dia? Kalau saya memang nggak mau karena nggak nyaman, kenapa dipaksa?

Berkali-kali saya sudah bilang, make up-nya natural aja, tapi entah karena dorongan profesionalitas atau memang dari sononya sudah ngotot, hasil make up saya tidak seperti yang saya inginkan. Entah bedaknya yang terlalu tebal meski tak setebal dempul atau riasan mata yang menurut saya bukan selera anak muda zaman sekarang.

Lain waktu, ketika saya hendak berangkat kantor, tiba-tiba adek saya berceletuk "Klambine elek (bajunya jelek)". Atau mama saya tiba-tiba berkata "Masa mau ke acara formal bajunya kaya gitu?". Tuhane, apakah saya harus selalu menuruti komentar orang soal penampilan saya?

Saya yang tadinya happy-happy aja mau ngantor, jadi mendadak badmood. Kadang-kadang saya malah jadi merasa nggak pede dan berujung ribet mencari baju lain yang kelihatan bagus. Akhirnya, berangkat kesiangan dan sesampainya di kantor pun masih merasa kesal.

Saya jadi semakin meyakini bahwa emang benar ya perempuan sejak dulu hidupnya diatur-atur melulu. Bahkan meski zaman udah maju dan mulai banyak perempuan yang speak up, tapi kalau suaramu bukan suara mayoritas artinya kamu harus menuruti kemauan pendapat khalayak. Yang menyedihkan, ternyata masih ada orang yang belum bisa menghargai pilihan orang lain, terutama pilihan seorang perempuan. Alih-alih didengarkan, kebanyakan pendapat perempuan sering direspon negatif atau dengan perkataan yang tidak menyenangkan hati.

Hal-hal sepele aja, seperti berdandan dan cara berpakaian, selalu diatur-atur bahkan oleh sesama perempuan sendiri. Padahal seharusnya, setiap perempuan bebas menentukan keinginannya sendiri dong. Sebab, tidak semua orang nyaman dan bisa menyesuaikan apa yang disebut sebagai standar orang lain. Tiap orang punya standar dan seleranya masing-masing kan?

Oleh sebab itu, saya pun mulai belajar menutup telinga dengan omongan maupun komentar orang lain, terutama soal penampilan saya. Bodo amat. Selama saya merasa nyaman menjadi diri sendiri, bodo amat sama nyinyiran orang lain. Lagian, saya kan nggak merugikan siapa pun. 

Enregistrer un commentaire

WhatsApp Button fonctionne uniquement sur les appareils mobiles

Commencez à taper et appuyez sur Entrée pour rechercher