17 février 2020

Ketika Ayahku Toxic: Buruknya Relasi Anak dengan Orang Tua

Father is scolding his daughter. Source by: dissolve



Desember tahun lalu, kantor tempat saya bekerja sedang mengadakan campaign menulis bertajuk Hari Ayah. Tugas saya adalah mengkurasi artikel yang masuk agar bisa dipublikasikan di laman web kami. Tak disangka, artikel yang masuk sudah melebihi ekspektasi ka​​mi.

Karena membaca tulisan-tulisan itulah, saya jadi saya jadi tahu kisah cinta dan kerinduan anak kepada sosok ayah. Saya jadi tahu sosok ayah ideal yang mendadak saya harapkan secara diam-diam. Maklum, saya nggak ngerti apa itu cinta seorang ayah. Saya pun hampir lupa bagaimana rasanya disayang oleh seorang ayah.

Semakin bertumbuh dewasa, saya menyadari bahwa saya memang tidak dekat dengan ayah saya. Meski dari zaman masih sekolah hingga pertengahan kuliah saya masih diantar jemput olehnya, tetap hal itu tidak menjadikan saya dekat dengan sosoknya. Ketika sama-sama berada di rumah, kami hampir tidak pernah berbincang apalagi bersendau gurau bersama. Kami selalu punya 'dunia' sendiri yang tidak saling dipahami.

Terkadang saya begitu iri melihat keakraban seorang ayah dengan anak. Saya juga iri melihat screenshot chat lucu nan kocak dengan ayah yang berseliweran di linimasa. Beberapa orang mengatakan, ayah adalah cinta pertama anak perempuannya. Namun entah kenapa, saya justru tidak merasa relate sama sekali. Meski sosoknya saya temui setiap hari, tetapi ada benteng tebal yang memisahkan hubungan kami.

Sepanjang sejarah, obrolan saya dengannya hanyalah sebatas pernyataan dan pertanyaan. Misalnya, ketika waktu telah menunjukkan pukul 10 malam dan saya belum berada di rumah, ia pasti akan merongrong saya dengan chat atau telepon. Berkali-kali. Kadang-kadang menggunakan nada mengancam. Ketika saya muak dan sengaja nggak membalasnya, pasti mama saya yang kena getahnya. Kalau sudah begitu, meski urusan atau pekerjaan saya belum selesai, saya harus mengalah dan pulang demi menjaga hati mama saya. Nyebelin sih, tapi bagaimana lagi. Saya nggak pengen mama saya yang dimarah-marahi ayah hanya karena anak gadisnya belum berada di rumah.

Yang paling menyebalkan, ketika saya dinas ke luar kota, ayah saya tetap 'meneror' seolah-olah saya buronan. Pertanyaan saya di mana, sama siapa, menginap di mana, berapa hari di sana, membuat saya merasa orang ini posesif banget sih! Padahal sebelum berangkat, saya sudah izin bakal pergi ke luar kota untuk urusan kerja. Masa iya nggak bisa percaya sedikit pun dengan anaknya?

Dulu saya masih menurut saja dan mengiya-iyakan apapun yang ayah saya katakan. Namun seiring berjalannya waktu, saya merasa risih dan muak dikontrol dengan cara demikian. Saya nggak suka. Apapun alasannya, saya nggak setuju jika anak perempuan harus selalu di rumah dan tidak boleh keluar sampai malam. Saya juga nggak suka diatur-atur secara berlebihan, apalagi saya sudah bisa membuat keputusan sendiri.

Tidak hanya overprotective, ayah saya juga hampir tidak pernah memuji. Dulu ketika lolos seleksi peserta student exchange, ayah saya malah bilang "Alah aneh-aneh wae, rasah mangkat!" (Alah aneh-aneh saja, nggak usah berangkat!) padahal saya sudah mengikuti serangkaian proses seleksi, tinggal berangkat aja, dan semua dibiayai oleh Dinas Pendidikan. Ketika saya mulai bekerja paruh waktu karena ingin mencari uang jajan secara mandiri, bukan dukungan yang saya dapatkan, melainkan sebuah kalimat "Ngopo ndadak kerja barang? Kuliah yo kuliah wae, rasah aneh-aneh!" (Ngapain harus kerja segala? Kuliah ya kuliah aja, nggak usah aneh-aneh!). Ketika saya berhasil lulus kuliah kurang dari 4 tahun dan mendapat predikat cumlaude, tidak ada ucapan selamat datang darinya. Sementata beberapa hari ke belakang, ia selalu ribut menyuruh saya cepat lulus dan kerap membanding-bandingkan saya dengan anak orang lain.

Bila mengingat ketiga peristiwa tadi, rasanya sedih banget. Saya sedih karena mengetahui fakta bahwa ayah saya toxic dan terkadang saya nggak kuat menghadapinya. Saya sedih melihat buruknya komunikasi keluarga kami, sehingga permasalahan yang sama selalu berulang. Ketika saya sudah nggak tahan dan berusaha speak up, jawaban-jawaban seperti "Anak nggak tahu terima kasih" atau "Jangan ngomong keras-keras nanti dosa" memaksa saya untuk bungkam.

Kadang-kadang di tengah kesendirian, saya berpikir, kenapa ya anak harus selalu mengalah dan menuruti perkataan orang tua? Kenapa anak nggak boleh protes dan mengutarakan pendapatnya? Apakah hanya dengan bicara dan mengungkapkan perasaan, anak menjadi auto durhaka? Saya nggak paham kenapa anak diharuskan patuh kepada orang tua, sementara orang tua bisa bersikap seenaknya sendiri kepada anak.

Saya percaya hubungan yang baik itu dilandasi oleh komunikasi dua arah dan setara. Begitu pula dengan hubungan orang tua dan anak. Seandainya orang tua bisa bersikap terbuka, mungkin bayangan soal orang tua toxic tidak akan menempel pada memori sang anak. Seandainya orang tua mau mendengarkan dan mau memulai dialog, mungkin anak jadi lebih betah berada di rumah. Seandainya orang tua bisa percaya kepada anak, mungkin anak jadi terbiasa untuk nggak berkata bohong.

Sudah saatnya orang tua bisa menanggalkan status "mulianya". Orang tua bisa memosisikan diri sebagai teman yang mau mendengarkan, sehingga anak tidak akan tumbuh menjadi orang dewasa yang krisis kepercayaan. Orang tua juga seharusnya bisa memberikan apresiasi atas pencapaian anak, sebab hal ini akan berpengaruh pada rasa percaya dirinya. Plus, jangan pernah gengsi dan sungkan untuk meminta maaf kepada anak usai memarahinya atau telah melakukan kesalahan. Jika kita berpegang teguh dengan hal-hal ini, niscaya relasi toxic anak-orang tua bisa terputus dan anak-anak kita kelak tidak akan mengalami hal yang sama.

Publier un commentaire

WhatsApp Button fonctionne uniquement sur les appareils mobiles

Commencez à taper et appuyez sur Entrée pour rechercher