December 3, 2019

Pendidikan Seks yang Tabu tapi Tetap Bikin Penasaran

Photo by Zun Zun from Pexels

Apa yang kamu pikirkan pertama kali ketika mendengar kata seks? Saya berani jamin, di antara kita pasti masih ada yang malu-malu mengucapkan jawabannya. Boro-boro ngasih jawaban, ngomong kata "seks" aja nggak bisa sembarangan. Saru, kalau kata orang tua

Di Indonesia, seks masih jadi barang yang tabu. Sulit sekali membicarakan seks secara gamblang di ruang publik. Jangankan di ruang publik, dalam kehidupan rumah tangga hingga pendidikan dasar kepada anak saja masih kecil kemungkinannya. Padahal seks tidak melulu soal berhubungan badan selayaknya suami istri. Lebih dari itu, pendidikan seksual justru mengajarkan makna konsensual dan bagaimana menjaga kesehatan reproduksi. Pendidikan seks juga mengajarkan anak untuk mengenali bagian tubuhnya sendiri agar terhindar dari kekerasan seksual.

Baca juga: Citra Tubuh Perempuan dan Budaya Body Shaming

Pesatnya perkembangan teknologi dan semakin mudahnya akses informasi, membuat orang tua saat ini sudah mulai mengajarkan pendidikan seksual kepada anaknya. Namun, tak menutup kemungkinan ada juga orang tua yang belum mau atau masih malu-malu membicarakan soal seksualitas kepada anaknya.

Saya mengalami menstruasi pertama kali ketika kelas 6 SD. Waktu itu mama saya bilang "Mulai sekarang kamu harus cuci celana dalammu sendiri ya". Ketika saya tanya apa itu menstruasi mama hanya menjelaskan singkat "Itu darah kotor" tapi ia tidak menjelaskan mengapa bisa muncul darah kotor dalam tubuh saya. Karena saya masih polos dan belum sekritis sekarang, saya pun iya iya aja dan tidak bertanya lagi lebih lanjut. Meskipun demikian, mama tetap mengajari saya bagaimana caranya menggunakan pembalut. mencucinya dan bersuci setelah mentruasi berakhir.

Ketika mulai masuk sekolah menengah dan berlangganan majalah GADIS, semua pertanyaan saya seputar mentruasi terjawab sudah. Saya jadi tahu bahwa omongan-omongan murid perempuan seperti "Jangan deket-deket cowok nanti hamil" di saat pelajaran berenang dulu ternyata hanyalah mitos dan sama sekali tidak valid. Saya jadi tahu bagaimana mengatasi rasa nyeri saat haid. Dan saya jadi tahu bahwa berhubungan seks dengan penetrasi (masuknya penis ke dalam vagina) tanpa alat kontrasepsi dapat menimbulkan berbagai risiko, termasuk kehamilan.

Saya memang cukup beruntung bisa mendapatkan informasi mengenai seksualitas meskipun hanya melalui majalah saja. Tapi percayalah, apa yang saya baca di GADIS itu sebenarnya masih sangat minim. Lebih-lebih di sekolah, pelajaran mengenai seksualitas hanya sebatas pengenalan anatomi tubuh manusia saja.

Saya ingat sekali, waktu itu guru saya menjelaskan bagian organ reproduksi dan meminta kami untuk menghapalkan nama beserta dengan fungsinya masing-masing. Pada pembahasan selanjutnya, guru hanya menjelaskan secara singkat mengenai mengapa laki-laki bisa mengalami mimpi basah dan bagaimana proses terjadinya menstruasi. Ketika pembahasan sudah masuk ke ranah pembuahan sel telur, guru tidak menjelaskan secara rinci bagaimana sel sperma bisa masuk ke dalam rahim. Katanya, tidak pantas dibicarakan di dalam kelas.

Murid-murid pun hanya mengangguk-angguk saja. Tidak mengerti soal menjalin hubungan seks yang sehat dan konsensual hingga bagaimana caranya menjaga kesehatan reproduksi. Tahunya hanya menghapal nama-nama organ tersebut berikut dengan fungsinya saja agar bisa menjawab soal ulangan dengan baik dan benar.

Baca juga: Marlina, Simbol Resistensi Perempuan

Beberapa waktu lalu, tagar #SexEducation sempat ramai memenuhi linimasa di Twitter karena menanggapi sebuah cerita yang disebarluaskan oleh akun @CatGoldwynMyr. Dalam cuitan tersebut, akun ini menceritakan seorang remaja perempuan yang hamil. Kepada dokter yang bertugas di Pelayananan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR), remaja tersebut mengaku berhubungan seksual untuk membantu pacarnya yang sakit "kelebihan sel darah putih".


Bagi orang-orang seperti saya yang sudah mendapatkan pendidikan seksual pasti akan menganggap bahwa "kelebihan sel darah putih" pasti hanya akal-akalan saja dari pacarnya. Tapi bagi remaja perempuan tersebut, ia pasti percaya sekali bahwa pacarnya beneran sakit. Hal ini semakin membuktikan bahwa pendidikan seksual ternyata masih "barang mewah" bagi sebagian orang.

Selain "kekonyolan" yang dilakukan oleh remaja, belakangan juga makin marak berita kekerasan seksual yang terjadi pada anak. Lebih-lebih kepada anak di bawah umur, eksploitasi seks justru lebih sering dilakukan oleh orang-orang terdekat bahkan anggota keluarga mereka sendiri. Fakta inilah yang membuktikan kurangnya pemahaman anak tentang seksualitas yang seharusnya sudah diajarkan oleh orang tuanya sedini mungkin, sehingga ketika anak beranjak dewasa mereka sudah memahami apapun yang berkaitan dengan tubuhnya dan bisa menjaga dirinya sendiri.

Sayangnya, masih banyak orang tua yang memilih apatis. Malahan ada juga yang bilang, "Nanti kalau sudah gede ya bakal tahu sendiri" seolah-olah menyerahkan sepenuhnya kepada sekolah sebagai sumber ilmu. Padahal, tahu kan, pendidikan seksual di sekolah cuma gitu-gitu doang. Akhirnya, anak dan remaja pun mencari tahu jawabannya sendiri melalui internet sementara tidak semua informasi di internet benar dan terpercaya kan?

Baca juga: Cerita Pernikahan Dini yang Tak Seindah Katanya

Ngomong-omong soal pendidikan seks, seharusnya kita sudah mulai bodo amat dengan kata "tabu". Sebab, menabukan suatu hal tanpa kita tahu alasannya malah bisa merugikan diri sendiri dan tentunya orang-orang di sekitar kita. Memberikan pendidikan seks kepada anak sedini mungkin adalah bentuk kepedulian orang tua terhadap masa depan anak.

Pendidikan seks bisa ditanamkan ketika anak mulai mengajukan pertanyaan. Misalnya, ketika anak bertanya mengapa organ tubuh laki-laki dan perempuan berbeda, orang tua bisa menjelaskan nama bagian dan fungsinya. Atau ketika anak bertanya dari mana ia lahir, jawab jujur saja bahwa anak lahir dari rahim ibu yang keluar melalui vagina. Tidak perlu malu apalagi harus mengganti nama penis dan vagina dengan nama lain agar tidak vulgar. Katakan saja apa adanya, sembari dijelaskan bagian tubuh mana saja yang boleh dan tidak boleh dilihat/dipegang orang lain atau berhati-hati dengan orang asing.

Begitu pentingnya pendidikan seks pada anak sedini mungkin, tentu dibutuhkan komunikasi yang terbuka dan intens antara anak dan orang tua. Sebagai orang tua yang bertanggung jawab, sudah seharusnya orang tua memberikan pendidikan terbaik bagi anaknya agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Post a Comment

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Commencez à taper et appuyez sur Entrée pour rechercher