May 25, 2017

Perbedaan yang (Seharusnya) Tak Perlu Diperdebatkan

Photo by rawpixel.com from Pexels
It is not our differences that divide us. It is our inability to recognize, accept, and celebrate those differences. - Audre Lorde

Akhir-akhir ini, rasanya dunia sangat membosankan. Dimulai dari kontroversi seputar pemilihan gubernur DKI yang cukup bikin kuping dan mata panas, sekarang muncul lagi isu-isu SARA yang membuat saya harus mengelus dada. Hadeh. Apa nggak ada bahasan receh macem audisi Biskuat?

Namun, di tengah-tengah isu-isu yang tengah berkecamuk, baik di linimasa sosial media hingga perdebatan kecil di sekitar saya, saya menyadari bahwa sebenarnya yang 'bermasalah' itu ya hanya 'orang-orang' itu saja. Bukan maksud saya untuk berkata kasar, namun saya rasa orang-orang tersebut mungkin hanya kurang pique-nique saja. Atau mungkin kurang bergaul. Bukan berarti nggak gaul ya! Hanya saja, mungkin (sekali lagi, ini hanya asumsi saya), mereka belum terbiasa untuk bergaul dengan orang-orang di luar innercircle-nya. Belum lagi kalau sudah berprasangka. Padahal jelas-jelas ada pepatah mengatakan "don't judge a book by its cover".

Sedari kecil, saya memang sudah dihadapkan pada perbedaan. Orangtua saya berbeda agama. Papa saya adalah penganut Katolik yang taat. Sedangkan mama saya lahir dari keluarga Muslim. Jangan tanyakan mengapa akhirnya mereka berdua bisa menikah ya. Karena sesungguhnya saya pun tidak tahu jawabannya. Biarlah itu menjadi rahasia papa dan mama saya. Hanya saja, sejauh pengamatan saya, selama dua puluh tiga tahun, papa dan mama saya biasa-biasa saja tuh!

Bagi sebagian orang, mungkin permasalahan terbesar ketika dua orang yang berbeda agama memutuskan untuk menikah adalah bagaimana dengan anak-anaknya? Saya bisa katakan bahwa sebenarnya hal tersebut justru membuat saya belajar untuk memilih.

Waktu kecil, mungkin umur empat tahun kali ya, saya pernah kok diajak ke gereja sama papa saya. Namanya anak kecil ya, bukannya anteng ikut kebaktian, eh malah merengek-rengek pengen main ayunan! Kebetulan di dekat gereja emang ada TK gitu sih. Di saat yang bersamaan, mama saya juga sering mengajak saja sholat berjamaah. Ya meskipun waktu itu saya cuma ngikutin gerakan mama aja. Belum paham sholat itu apa, wajib atau enggak, manfaatnya apa, dsb.

Lantas, ketika diperkenalkan dengan dua agama yang berbeda, apakah hal tersebut membuat saya bingung? Bisa saya tegaskan, tidak. Karena toh pada akhirnya, saya bisa memilih dan memutuskan untuk setia dengan salah satu agama. Bahkan hingga saat ini, alhamdulillah saya malah justru makin jatuh cinta dengan apa yang sudah saya pilih.

Apakah kemudian pilihan saya yang berseberangan dengan papa menjadi masalah bagi beliau? Ya, enggak. Saya bisa mengerti bahwa setiap orangtua tentunya akan senang jika anaknya pun mengikuti dirinya. Lha emang siapa sih yang nggak seneng ibadah bareng orang-orang terkasih dan tersayang? Namun, bagi saya, bukankah urusan keyakinan, terutama agama, itu menyangkut individu dengan Tuhannya? Bukankah orang lain tidak berhak meminta, menyuruh apalagi memaksa untuk mengikuti apa yang telah dianutnya? Dan saya rasa kedua orangtua saya paham akan hal itu.

Jadi, beginilah asyiknya. Saya jadi bisa merasakan euforia hari besar dua agama yang berbeda. Saat Lebaran tiba, nggak hanya opor dan sambal goreng hati buatan mama saja yang saya nantikan, melainkan juga momen berkunjung atau silaturrahmi ke rumah saudara-saudara kami yang Muslim. Selain keluarga mama, keluarga papa pun juga ada yang Muslim. Bisa dipastikan, hari pertama dan kedua Lebaran, jadwal kami selalu padat demi mengunjungi saudara yang mungkin cuma setahun sekali saja ketemunya.

Lalu ketika Natal, dulu keluarga papa biasa mengadakan makan bersama. Entah itu lunch atau dinner. Pun sebelum makan, biasanya keluarga papa akan mengadakan doa kecil-kecilan. Dan apakah saya juga ikut berdoa? Hehehe sebenernya mau bilang enggak, tapi saya berusaha berdoa sendiri di dalam hati. Ya masa sebelum makan nggak berdoa? Nggak berkah dong makanannya?

Terlepas dari perdebatan mengenai boleh tidaknya Muslim turut bersuka cita ketika Natal, saya tidak terlalu ambil pusing. Toh, niatnya kan untuk bersilaturrahmi bukan merayakan. Bukankah segala sesuatu itu bergantung pada niatnya? Bukankah manusia itu tidak berhak memberikan penilaian, lebih-lebih menghakimi dosa atau tidaknya seseorang? Memangnya manusia itu siapa? Kok berani-beraninya lancang dari Tuhan?

Saya jadi teringat masa-masa SMP ketika bersekolah di sekolah yayasan Kristen. Saya yang seorang Muslim pun tiba-tiba menjadi golongan minoritas di sana. Awalnya, saya memang sempat takut kalau tidak nyambung dan tidak cocok dengan lingkungannya. Apalagi sekolah saya sebelumnya kan negeri dan saya masuk dalam golongan mayoritas. Namun toh pada akhirnya, ketakutan itu ya hanya ketakutan biasa aja. Malahan saya mendapat banyak sekali pelajaran berharga dalam hidup. Terutama soal toleransi.

Salah satu hal yang paling saya sukai dari sekolah yayasan ini adalah kedisiplinannya. Rasanya, saya hampir tidak pernah merasakan jam kosong karena guru yang tiba-tiba tidak bisa mengajar. Pasti selalu ada guru yang siap mengisi ketika jam kosong tiba.

Terus, gimana sama pelajaran agamanya? Ya namanya sekolah Kristen pastinya agama yang diajarkan ya agama Kristen kan? Lho memangnya nggak disediakan guru agama Islam? Sayangnya tidak. Tapi kan wajar, namanya juga sekolah swasta dari yayasan Kristen.

Namun toh, saya juga enjoy saja tuh. Nggak masalah. Malahan saya sering bertukar pikiran dengan guru agama dan teman-teman saya mengenai agama masing-masing. Kami juga tidak pernah bertengkar hanya karena perbedaan agama. Kalaupun bertengkar, paling cuma karena ejek-ejekan, terus iri, terus geng-gengan, dan lainnya. Namanya juga anak SMP, masih labil jiwanya.

Sebaliknya, saya suka merasa kalau pihak sekolah tuh terlalu baik sama saya. Contohnya ketika ada ibadah di gereja untuk menyambut Natal atau Paskah. Ketika teman-teman yang lain diwajibkan untuk hadir mengikuti kebaktian di gereja, saya bisa aja tuh enak-enakan di rumah. Meskipun kegiatan itu termasuk wajib, namun pihak sekolah memberikan dispensasi kepada murid-muridnya yang nonkristiani. Jadi, para siswa atau siswi yang nonkristiani boleh tidak ikut kebaktian di gereja. Kalau pengen ikut gimana? Ya, monggo-monggo aja sih. Namun dengan catatan, tidak ada pemaksaan lho ya!

Bahkan dulu saya juga pernah ikutan main drama di gereja. Jadi, sebelum doa Paskah, siswa-siswa yang terpilih bakal mementaskan drama mengenai kelahiran Yesus. Tentunya, saya pun harus mengikuti serangkaian acara di sana kan? FYI, nggak masalah juga tuh. Ketika mereka berdoa, saya pun memilih diam, nggak berisik, sebagai bentuk penghormatan saya kepada mereka.

Lain waktu, pihak sekolah juga mengadakan kegiatan keagamaan rutin yang sering disebut retreat. Karena termasuk kegiatan wajib, makanya kehadiran siswa dalam acara tersebut menjadi salah satu penilaian untuk mata pelajaran agama Kristen. Meskipun demikian, pihak sekolah masih saja memberikan dispensasi kepada siswa-siswinya yang nonkristiani. Meskipun tidak diwajibkan hadir, tetapi sebagai gantinya guru agama akan memberikan tugas tambahan sebagai pengganti nilai agama.

Saya inget banget, waktu itu kegiatan retreat berlangsung saat bulan Ramadan. Guru saya bilang, kira-kira begini ya, "Buat yang Muslim nggak usah hadir nggak apa-apa. Kan lagi puasa juga, biar fokus sama ibadahnya masing-masing,". Ucapannya sederhana sih, tetapi sangat bermakna bagi saya. Akhirnya karena nggak wajib hadir, siswa-siswi yang Muslim pun diberi 'tugas pengganti', yaitu dengan membuat buku harian selama Ramadan. Isinya bebas, yang penting menggambarkan kegiatan sehari-hari selama menjalani ibadah puasa. Malah disarankan untuk menulis materi kultum sebelum tarawih. Menyenangkan sekali kan tugasnya?

Mungkin beberapa orang bertanya-tanya, apakah saya nyaman-nyaman saja menjadi minoritas? Apakah di sana ada kristenisasi atau semacamnya? Bisa saya tegaskan, tidak ada itu namanya kristenisasi dan saya pun nyaman-nyaman aja bersekolah di sana.

Selama saya menjalani kehidupan SMP, saya juga tidak pernah mengalami diskriminasi apapun. Bahkan ketika MOS, kepala sekolah dalam pidatonya menegaskan bahwa siapapun boleh sekolah di sana dan pihak sekolah tidak akan mengkristenkan siapapun. Dan ya begitulah adanya. Saya tidak pernah mengalami hal-hal yang diprasangkakan banyak orang.

Saya sangat bersyukur, walaupun dulu sempat kesal dan kecewa kenapa nggak dapet sekolah negeri, tapi ternyata Allah punya rencana lain agar saya bisa lebih memahami kehidupan. Terutama dalam hal bergaul dan toleransi. Sehingga, beginilah saya sekarang.

Sempat 'hidup' menjadi seorang minoritas, membuat saya paham bahwa seseorang tuh nggak selalu dinilai dari apa agama yang dianutnya. Justru sebaliknya, orang akan lebih dihargai karena kemampuan dan sikapnya. Makanya saya sering keheranan dengan sikap orang-orang yang 'kelewat batas'. Apa sih yang dipermasalahin? Please deh bro sis~
Lalu apa korelasinya cerita saya dengan screenshot tweet-nya Om Henri Manampiring? Sebagai orang yang tumbuh di lingkungan multikultur, saya bisa pahami mengapa 92% memilih jawaban "Punya! Tidak masalah". Ya, memang pada kenyataannya tidak masalah kok!

Saya rasa, meskipun Indonesia sedang darurat toleransi ya, ternyata masih banyak kok orang-orang waras yang menjunjung tinggi keberagaman dan kerukunan. Lagipula, bukankah perbedaan itu nggak seharusnya diperdebatkan? Bukankah Allah itu menciptakan segala sesuatu yang berbeda-beda itu agar dunia lebih berwarna dan tidak membosankan?
If we cannot now end our differences, at least we can help make the world safe for diversity. - John F. Kennedy 

Post a Comment

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Commencez à taper et appuyez sur Entrée pour rechercher