14 août 2019

Bumi Manusia dan Ekspektasi yang Keterlaluan

Minke mencium tangan Annelies. Sumber: Falcon Pictures

Ketika memutuskan untuk menonton Bumi Manusia pada Gala Premier yang diselenggarakan di Empire XXI Selasa (13/8) silam, saya sudah mewanti-wanti diri saya bahwa ini hanyalah film. Mau bagaimanapun juga, film yang diangkat dari sebuah novel, tidak akan pernah memenuhi ekspektasi saya sebagai pembaca. Selalu ada hal yang tidak sesuai dengan harapan. Lagipula, tidak semua hal harus sesuai dengan kemauan saya kan?

Memang sih, sejak kabar Bumi Manusia akan difilmkan oleh Hanung Bramantyo beredar, saya sudah pesimis duluan. Serius? Yakin? Beneran bisa? Apalagi saat itu, ia mengumumkan bahwa Minke, tokoh paling fenomenal dalam kisah ini adalah Iqbal Ramadhan. Waduh, dia beneran bisa nggak ya? Jangan-jangan malah menghancurkan imajinasiku tentang sosok Minke?

Tapi, prasangka itu saya tepis berulang kali bahkan sesaat sebelum film dimulai. Ini antara buku dan film. Bagaimana bisa saya membandingkan dua hal yang jelas-jelas berbeda? Bukankah demikian saya sudah berlaku tidak adil sejak dalam pikiran?

Akhirnya, saya pun menikmati film tersebut sebagaimana saya menikmati film yang lain. Tanpa prasangka apapun. Malahan saya dibuat kagum dengan kemampuan akting para tokohnya.

Salah satu tokoh yang mengalihkan dunia saya sepanjang film adalah Annelies Mellema. Sosok yang diperankan oleh Mawar Eva de Jongh benar-benar memenuhi ekspektasi saya sebagai pembaca.  Sebagai gadis dan anak dari Nyai Ontosoroh, Mawar Eva benar-benar terlihat sangat menjiwai perannya. Tak hanya karena parasnya yang cantik dan anggun, ia juga lihai memperlihatkan sosok Annelies yang sangat rapuh seperti boneka porselen. Di beberapa adegan, aktingnya mampu membuktikan bahwa karakter Annelies terlihat minor di hadapan ibunya, bahkan seperti tidak punya kuasa apapun terhadap dirinya sendiri.

Hampir sepanjang film, Annelies menjadi gadis manja dan kekanak-kanakan yang sangat bergantung dengan kehadiran Minke. Cocok betul dengan penggambaran di dalam buku. Meskipun tokoh ini terlihat tidak berdaya, tetapi di akhir cerita Annelies berhasil menunjukkan diri sebagai pribadi yang tegar. Saya yakin, siapapun yang belum pernah membaca bukunya pasti akan terpana melihat ketegarannya.

Sementara itu, Nyai Ontosoroh yang diperankan Sha Ine Febriyanti, terlihat teguh bahkan cenderung berwatak keras. Dari sorot matanya saja, saya sudah tahu bahwa orang ini telah melewati banyak penderitaan dan kepedihan. Ia banyak belajar dari kepahitan hidupnya, sehingga siapapun yang bertemu dengannya pasti akan segan dengan kemandirian dan kebijaksanaannya. Tapi, bagaimanapun juga, sebagai seorang manusia biasa, ia bisa saja merasa rapuh dan tak berdaya. Lebih-lebih ketika ia kehilangan hak asuh atas Annelies.

Sayangnya, saya masih saja tidak puas dengan penggambarkan sosok Minke yang diperankan oleh Iqbaal. Entah kenapa, sepertinya film ini sengaja memunculkan sisi romantis Iqbaal yang selama ini dikenal sebagai Dilan. Pun beberapa dialognya, kok terkesan gombal ala ABG yang baru mengenal cinta. Hadeeeh. Meskipun memang Minke itu suka 'iseng' dengan perempuan cantik, tapi rasanya kok terlalu jauh ya penggambarannya?

Meski sedari awal saya sudah berniat menontonnya tanpa prasangka, tapi tetap saja saya kecewa dengan hubungan Minke dan Annelies yang terlalu ditonjolkan dan dilebih-lebihkan. Padahal Bumi Manusia bukan sekadar roman picisan. Tapi biarlah, mungkin kisah cinta-cintaan ini dianggap lebih menarik bagi penonton. Toh, ketika Suurhof menceritakan kisah hidup Annelies kepada Minke di sebuah kafe sudah membuktikan tujuan film ini.

Terlepas dari kekecewaan tersebut, saya akui Iqbaal oke juga aktingnya. Adegan favorit saya adalah ketika Minke menghadiri upacara penobatan ayahnya yang diangkat menjadi bupati. Ketika menerjemahkan pidato sang bupati (yang tentu saja tidak sesuai dengan isi pidato sebenarnya), Iqbal terlihat sangat piawai menggunakan mimik wajahnya. Saya rasa, scene itulah yang paling menunjukkan kecerdasan dan ketegasan Minke melawan "penghambaan" yang terjadi di sekitarnya.

Dari semua adegan, yang paling membekas adalah perpisahan Annelies. Saya paham benar bagaimana rasanya ditinggal maupun meninggalkan. Hanung mampu mencapuradukkan perasaan penonton melalui adegan ini. Saya hampir meneteskan air mata melihat kepedihan yang dirasai oleh Minke dan Nyai Ontosoroh. Sesakit dan sesedih itu ya sebuah perpisahan.

Menerjemahkan isi Bumi Manusia ke dalam sebuah film memang bukan pekerjaan mudah dan tentu saja membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Apalagi mengingat 'mahakarya' ini belum terlalu dikenal orang-orang. Saya saja, baru membaca Bumi Manusia ketika saya kuliah semester 3. Itupun tidak sengaja saya temukan di pojokan lemari perpustakaan kampus, setelah hampir satu jam saya berkeliling mencari bacaan untuk membunuh rasa bosan.

Mungkin, Hanung hanya ingin mengenalkan karya fenomenal ini kepada khalayak. Tak tanggung-tanggung, ia sampai membuat Studio Alam Gamplong demi mewujudkan misinya. Supaya makin terlihat hidup, dialog-dialog yang dimunculkan pun menggunakan beragam bahasa asing seperti bahasa Belanda, Inggris, Prancis, dan Jepang. Sayangnya, tidak ada satupun dialog yang menggunakan bahasa Melayu.

Nah, bagi kalian yang sudah membaca bukunya, jangan dibayangkan jika film ini bernuansa serba serius dan menegangkan. Justru, karena durasinya yang sangaaat panjang, yaitu hampir 3 jam, film ini menyelipkan banyak komedi dan lelucon seputar hubungan dan kehidupan sehari-hari. Misalnya saja, ucapan seorang 'bibi' yang kental dengan logat Jawa Timuran. Tentu saja ini masuk akal mengingat setting lokasi cerita berada di Wonokromo dan Surabaya. Tapi entah kenapa, guyonan ini justru menghilangkan esensi ceritanya. Bumi Manusia bukan cerita komedi kan?

Namun, saya betul-betul terganggu dengan penyebutan nama Tirto di dalam film. Seingat saya, Mbah Pram tidak pernah secara gamblang menyebut Minke adalah RM Tirto Adhi Surjo. Ia hanya menyebutkan bahwa Minke adalah anak dari bupati B. Melihat fakta ini, saya pikir Hanung agak kelewatan aja sih. Saya khawatir penyebutan nama tersebut malah jadi salah kaprah, lebih-lebih bagi mereka yang belum membaca bukunya sama sekali.

Selain itu, saya juga menyayangkan properti yang terkesan terlalu 'baru' dan asal dipasang. Misalnya saja rumah Nyai Ontosoroh. Entah kenapa saya melihat rumah tersebut seperti bangunan berdinding triplek, bukan seperti rumah berdinding kokoh. Saya malah deg-degan sendiri melihat Minke berlari menaiki tangga. Si Iqbaal apa nggak takut jatuh atau terperosok ya? Bahkan cat rumahnya saja terlihat ngejreng, sehingga terkesan kontras dengan lingkungan sekitarnya.

Meskipun demikian, film Bumi Manusia patut diacungi jempol. Sinematografinya oke, suasananya dapet. Tapi, emang lebih baik baca bukunya dulu sih supaya nggak terjebak dengan ekspektasi yang keterlaluan. Sekaligus belajar bersikap adil bahwa bagaimanapun juga, buku dan film adalah dua karya yang berbeda.

Enregistrer un commentaire

WhatsApp Button fonctionne uniquement sur les appareils mobiles

Commencez à taper et appuyez sur Entrée pour rechercher