10 avril 2019

Caraku Membebaskan Diri dari Toxic

Photo by Andre Furtado from Pexels
Topik seputar toxic memang kerap diperbincangkan. Apalagi mengingat saat ini usia sudah memasuki quarter life of crisis, pasti mulai banyak permasalahan hidup yang setia bertengger di kepala. Ada aja kecemasan dan kegalauan yang entah munculnya dari teman, keluarga, pekerjaan atau pasangan.

Tapi, toxic nggak selalu muncul dari faktor luar saja. Kadang-kadang kita sendirilah yang menimbulkan hidup kita terasa toxic. Kita sering merasa nggak sadar bahwa kita juga perlu membahagiakan diri sendiri, tidak melulu harus membahagiakan orang lain. Kalau bukan kita sendiri, siapa lagi yang bisa membuat kita bahagia? Toh, bahagia itu datangnya dari diri sendiri kan?

Omong-omong soal toxic, dulu saya adalah orang yang nggak enakan. Saya selalu saja mengiyakan permintaan orang lain. Ada rasa nggak enak nolak meski pada akhirnya saya sendiri yang kewalahan memenuhi permintaan tersebut. Dan karena kewalahan inilah, saya jadi pribadi yang selalu murung, sambat ra uwis-uwis, dan parahnya sering melampiaskan emosi negatif ini ke orang-orang terdekat saya.

Saat itu, saya merasa takut dan khawatir untuk mengecewakan orang lain. Ada perasaan yang mengatakan bahwa saya ingin pembuktian diri (show off). Saya ingin diakui orang lain. Dan saya nggak ingin orang lain mengubah pandangan baik mereka terhadap saya.

Tapi suatu ketika, saya sadar bahwa pikiran-pikiran ini nggak baik buat kesehatan mental dan jiwa. Saya jadi susah bahagia. Saya nggak bisa ketawa ngakak lagi. Bahkan saya nggak bisa menikmati waktu senggang hanya karena kepikiran permintaan-permintaan dan omongan-omongan yang tidak bisa saya penuhi. Saya lelah, capek, dan muak.

Lantas, pelan-pelan, saya pun berusaha menolak permintaan orang lain. Saya mulai berkata tegas "nggak bisa" dan berkata jujur soal alasan kenapa saya nggak bisa. Memang sih, awalnya ada perasaan nggak enak apalagi mendengar tanggapan mereka kok seperti menyudutkan banget. Tapi yaudah lah ya bodo amat. Saya kan juga butuh bahagia!

Lain diri sendiri lain pula jika berhadapan dengan orang lain. Saya pernah merasakan bagaimana nggak enaknya bekerja dengan toxic people. Awalnya saya diam saja dan cuma berprinsip "yaudah yang penting kerjaan gue kelar". Tapi, lama-lama kok jadi beban ya? Hampir setiap hari saya sambat, tiap ke kantor mood-nya selalu nggak enak, baca grup WA bikin muak, duh pokoknya ada saja hal yang membuat saya badmood.

Beberapa kali hendak curhat tapi bingung sama siapa. Mau curhat sama temen setim, tapi kami semua merasakan hal yang sama. Jadi, alih-alih mendapatkan solusi dan pencerahan, saya dan mereka justru makin kenceng sambatnya. Duh, kalo gini nggak bakal kelar dong? Emang! Masalah itu nggak bakal selesai kalo cuma disambatin doang kan?

Kami sebetulnya menyadari bahwa menjalani pekerjaan dengan aura negatif itu sangat nggak nyaman. Saat meeting moodnya pada nggak enak, kadang-kadang juga main sindir-sindiran kepada yang bersangkutan. Kami pun sudah berusaha memberikan masukan, saran bahkan hingga kritik kepadanya tapi ya gitu deh. Semuanya loss aja kaya air yang mengalir di paralon. Bablas~

Situasi tersebut berlangsung berbulan-bulan dan kami terpaksa, mau nggak mau, menerima dan memaklumi sikapnya. Namun, sebetulnya, dibalik keresahan mempunyai atasan yang toxic, saya dan teman setim malah jadi makin dekat satu sama lain. Kami pun saling menguatkan apabila dapat tanggapan kurang menyenangkan dari yang bersangkutan. Kami juga dengan senang hati membantu pekerjaan masing-masing supaya cepat selesai dan agar tidak memperpanjang urusan dengan yang bersangkutan.

Di situlah saya merasa bahwa dukungan dan bantuan teman itu bisa jadi salah satu cara untuk menghadapi toxic people di lingkungan kerja. Sebab, kita memang nggak bisa mengubah seseorang sesuai dengan keinginan kita. Namanya juga karakter, udah dari sononya begitu.

Jadi, sebisa mungkin ketika ada masalah di pekerjaan, carilah teman yang bisa mendengarkan isi hatimu. Mengeluh itu boleh, wajar banget, tapi juga harus diimbangi dengan mencari solusi bersama. Dengan begitu, pekerjaan yang kamu jalani pasti akan cepat selesai. Dan kamu nggak perlu pusing mencari cara menuntaskan pekerjaanmu hanya karena ulah secuil orang toxic di sekitarmu.

Nah, soal toxic people ini rupanya nggak hanya terjadi di lingkungan kerja aja. Di lingkungan pertemanan, siapapun bisa mengalami rasanya bergaul dengan manusia-manusia beracun ini. Jangan dikira bahwa pertemanan sedekat dan selama apapun akan terbebas dari toxic. Hey, justru di sinilah (biasanya) sumber dari segala sumber toxic itu muncul!

Meski udah terbiasa menghadapi pertanyaan nyeleneh, pertanyaan "kapan" selalu jadi yang paling menyebalkan. Kapan lulus, kapan wisuda, kapan kerja, kapan nikah, kapan punya anak, dan kapan-kapan lainnya. Hadeeeh kaya nggak ada pertanyaan lain aja.

Awalnya sih biasa aja ya. Bahkan masih dianggap bercanda. Tapi, lama-lama menyebalkan sekaligus melelahkan juga. Lha gimana nggak capek kalo udah dijawab tapi masih ditanya-tanyain pula! Ada aja pertanyaan lain yang pasti nggak jauh-jauh dari pertanyaan pertama.

Karena kesal, saya jadi suka nggrundel di belakang mereka. Nggak jarang juga saya melontarkan "sumpah serapah" di medsos dengan maksud agar perasaan lebih lega. Rasanya tuh kepengen damprat langsung di depan mukanya tapi kok nggak tega. Huhu.

Tapi, lama-lama saya mikir juga. Ngapain sih misah-misuh terus? Ngapain sih dipikirin? Ngapain sih ditanggepin? Ngapain sih kebanyakan nyampah di medsos? Toh, omongan orang-orang tadi kan cuma basa-basi doang. Belum tentu mereka beneran peduli. Bisa jadi hanya ingin memuaskan hasrat kepo.

Jadi, yasudah, saya pun berkesimpulan daripada dipikir terus dan berujung bikin stress, pertanyaan-pertanyaan tadi cuma saya jawab dengan senyuman. Kadang kalau lagi baik, ya saya jawab aja seperlunya. Atau malah iya-iyain aja. Misalnya saya nggak suka dengan pertanyaannya, yaudah diemin aja, nggak usah ditanggepin.

Cara di atas mungkin sepele banget. Tapi bagiku, cara ini jauh lebih efektif buat meredam emosi akibat mangkel ditanya-tanya terus. Saya pun jadi belajar bahwa nggak semua hal perlu ditanggepin. Karena namanya nurutin omongan orang itu pasti nggak akan ada habisnya!

Dari semua kejadian tadi, saya belajar bahwa untuk menghindari toxic itu sebenernya dimulai dari diri sendiri. Bagaimana cara kita menyikapi suatu hal tentu juga akan berpengaruh pada berhasil atau tidaknya kita keluar dari lingkungan yang beracun tersebut.

Enregistrer un commentaire

WhatsApp Button fonctionne uniquement sur les appareils mobiles

Commencez à taper et appuyez sur Entrée pour rechercher