23 mars 2019

Pertanyaan-pertanyaan Menyebalkan tentang Pernikahan

Photo by Adobe Stock
Hari gini, menikah jadi salah satu trending topic yang diperbincangkan banyak orang. Dan tentunya netizen yang terhormat. Mungkin karena usia sudah memasuki quarter life of crisis kali ya, topik seputar pernikahan pun jadi terdengar lebih akrab di telinga saya. Rasanya, di manapun saya berada dan bergaul, pasti adaaa ajaaa satu dua celetukan yang mengandung pernikahan.

Misalnya, tentang seorang penyanyi yang baru saja menikah dan mendapat mahar 40M. Atau seorang selebgram yang menikah di KUA hanya bermodalkan kemeja dan celana jeans doang. Atau yang paling sering dibicarakan, ya apalagi kalau bukan kabar bahagia seorang teman lama yang memutuskan bertunangan hingga menggelar resepsi.

Memang sih, obrolan-obrolan semacam tadi awalnya terdengar asyik. Lebih asyik lagi kalo punya teman yang selalu up to date. Ibarat infotainment berjalan, ia dengan lihai menceritakan kisah-kisah cinta entah seorang teman lama atau influencer yang kemudian berujung pada pernikahan. Pokoknya ada aja yang dia ceritakan. Dan tentunya berhubungan dengan pernikahan dong.

Saya yang tadinya tidak mengikuti bahkan sebenernya nggak peduli juga, kini jadi tahu siapa saja teman yang sudah melengang ke jenjang pernikahan. Saya jadi tahu artis siapa yang baru saja menikah dan membuat jagat media sosial gonjang-ganjing. Tapi, di satu titik pula, saya akhirnya terpaksa menyetujui bahwa urusan pernikahan itu adalah urusan publik. Semua orang berhak untuk tahu dan berbahagia. Syukur-syukur kalo didoakan yang baik-baik.

Tapi sayangnya, obrolan-obrolan seputar pernikahan ini menjadi momok pula bagi beberapa orang. Pernikahan yang tadinya terkesan wah, lama-lama menjelma menjadi topik menyebalkan. Terutama bagi para joblowan/jomblowati, pernikahan seolah-olah jadi mimpi buruk bagi mereka.

Terbiasa melalukan hal-hal sendirian, tidak lantas membuat mereka kesepian. Itu namanya mandiri kali! Lain waktu, ketika mereka ke mana-mana sendiri, pasti ada aja mulut-mulut usil yang nanya "Kok sendirian aja? Mana pasangannya?". Apa coba salahnya jomblowan dan jomblowati? Mereka ini kan sedang berjuang memperbaiki diri, lha kok disuruh-suruh cari pasangan? 

Ramashoook~

Nggak cuma para jomblo yang sibuk memantaskan diri aja, tapi obrolan pernikahan ini juga jadi terasa menyebalkan buat yang sudah berpasangan lho. Lha gimana nggak sebel, kalo tiap kali habis ngobrol ngalor-ngidul yang intinya membicarakan kabar bahagia seorang teman terus ujug-ujug ditanya "Kamu kapan?". Atau malah mutusi dhewe dengan bilang "Wah, ini nih yang bentar lagi, bulan depan dilamar". Atau ada juga yang beneran doain supaya disegerakan tapi tetep aja pake embel-embel "Pokoknya jangan lupa seragam lho ya,". 

Wadoooh berat bosq.

Saya rasa obrolan semacam itu hanya terjadi di lingkup pertemanan dekat aja. Karena kalo di pergaulan baru paling-paling cuma ditanya "Masih single atau udah married nih?" yang membuat saya mengeluarkan ekspresi melingkarkan mata ke atas seolah-olah pertanyaan itu adalah pertanyaan paling aneh yang pernah saya dengar. 

Ha kok iso lho lagi kenal njuk takon koyo ngono???

Awalnya sih, celetukan-celetukan itu masih b aja di telinga saya. Halah, cuma bercanda. Tapi, lama-lama kok annoying juga ya. Soalnya saya itu seolah-olah udah didakwa bahwa sayalah orang yang pertama kali menikah di lingkup pertemanan tersebut. Mentang-mentang saya punya pasangan, yang kok kebetulan saya dan dia itu sering barengan karena alasan-alasan lain, terus jadi ditandai gitu kalau saya bakal segera menggelar pernikahan? Bulan depan lamaran?

Oh, tidak semudah itu Ferguso~

Pernikahan itu memang jadi impian setiap orang. Saya juga ingin. Tapi, perlu diingat bahwa untuk menuju ke jenjang itu tuh ya nggak sembarangan. Harus ada persiapan, baik materi maupun mental. Nggak usah denial bahwa nikah itu gampang kali langsung ke KUA aja. Apalagi sampe membandingkan dengan mbak Suhay Salim yang mungkin telinganya udah kebal kali ya sama omongan tetangga dan netizen.

Meskipun udah memiliki pasangan yang sama-sama sedang berniat menuju ke jenjang yang lebih serius, bukan berarti kita juga berhak menjustifikasi mereka "Wah, kalian nih yang bakal nikah duluan," lho. Salah-salah orang yang dijustifikasi malah tersinggung, sebab hubungannya dijadikan objek perbincangan melulu. Atau malah terpaksa menerima bahwa dirinya adalah kandidat pecah telor di lingkup tersebut.

Waduh, kok le penak le ngomong~

Iya sih, memang sudah ada niat ke situ. Tapi, niat baik kan harus diusahakan dan diperjuangkan dulu. Step by step. Nggak bisa dong langsung instan. Dikira lagi bikin Indomie?

Terlepas dari itu, saya paham bahwa guyonan soal pernikahan itu memang didasari niat yang baik. Namanya juga teman, pasti juga ingin yang terbaik buat temannya kan? Tapi, kurang-kurangin lah jokes-nya. Soalnya selain kadang-kadang terasa membosankan kaya nggak ada obrolan lain aja, saya juga khawatir kalau tiba-tiba saya ngasih undangan, kalian bingung mau gandeng siapa :(

Enregistrer un commentaire

WhatsApp Button fonctionne uniquement sur les appareils mobiles

Commencez à taper et appuyez sur Entrée pour rechercher