13 février 2019

Kembali Pulang Demi Menjemput Asa

Photo by Adobe Stock
Setiap perjalanan pasti menyisakan kenangan.

Sopir Go-Car membawaku menyusuri Jalan Kebon Sirih menuju Stasiun Gambir. Hatiku mencelos, sementara supir masih saja mengajakku berbincang—atau tepatnya mengeluhtentang Jakarta dan segala hiruk pikuknya. Setiap hari, ia harus berangkat sebelum pukul 07.00. Kantornya  ada di Jalan Pegangsaan dan tentunya ia tidak ingin jika menghadapi kemacetan setiap pagi. Bisa-bisa ia didamprat olehnya bosnya, orang China yang tidak suka berkompromi dengan kata terlambat. Sebetulnya ia lelah menghadapi Jakarta, lelah dengan pekerjaannya yang tak usai-usai, lelah dengan segala sambatan orang-orang, tapi ia tidak punya pilihan. Ia harus menghidupi keluarganya meski harus rela anaknya menjelma jadi anak pembantu, sebab baik ia dan istrinya, keduanya sama-sama bekerja dan tidak pernah bertemu kecuali pada waktu sarapan dan ketika rumah adalah sebaik-baiknya tempat untuk melepas lelah. Bagi mereka, hari libur dan weekend adalah sebuah kemewahan.

Aneh. Aku bahkan tidak mengenalnya, tapi ia dengan senang hati membagikan sebagian kecil hidupnya kepadaku. Padahal aku hanyalah penumpang, yang kebetulan sedang memakai jasanya. Tapi batas-batas itu menjadi tiada berarti ketika mendengar kata pulang.

*****

Siapapun pasti tak ingin terjebak macet di Rasuna Said selepas hujan.

Tidak biasanya malam itu Jalan Rasuna Said terlihat lengang. Beberapa pengendara motor lantas tancap gas tanpa perlu repot-repot memberikan kesempatan kepada sebuah mobil yang hendak memasuki jalur lambat. Dari Halte Karet Kuningan, kulihat beberapa pedagang makanan masih menggelar lapaknya dengan orang-orang yang tengah khusyuk menyantap makanannya di trotoar. Tidak peduli ada orang yang lalu lalang, mereka tetap makan dengan nikmat. Ada pula yang tengah merokok sambil bercengkerama dengan kawannya di pinggir trotoar. Suasana terlihat riang dan santai, sesekali terdengar gelak tawa dari sudut bibirnya, tapi percayalah, tidak ada yang bisa menipu gurat-gurat lelah yang terpancar dari wajahnya.

Kesimpulanku, keceriaan bisa jadi hal yang teramat mewah di Jakarta.

Bus jalur 6A jurusan Monas via Kuningan ke Ragunan telah berada di hadapanku. Aku pun bergegas masuk bersama dua penumpang lain. Bus terlihat lengang. Mungkin karena waktu sudah menunjukkan pukul 21.18. Tepat ketika petugas on board berkata "Yak, tutup!" aku segera duduk di bangku depan,  di area khusus wanita. Beberapa halte sepeti GOR Sumantri, Depkes, dan Patra Kuningan kulewati hingga akhirnya bus berhenti di Halte Kuningan Timur.

Sebuah amada Transjakarta yang baru saja menurunkan penumpang di Halte Kuningan Timur

Dari Halte Kuningan Timur, aku harus berjalan agak jauh ke Halte Kuningan Barat untuk transit jalur ke arah Gogrol atau Pluit. Arloji Swiss Army milikku menunjukkan pukul 21.27. Sementara aplikasi Trafi di layar ponsel pintarku menunjukkan bahwa bus jalur 9A akan tiba 3 menit lagi. Waduh, pikirku. Apakah aku sempat mengejarnya? Aku tidak mau menunggu armada selanjutnya yang datang 10 menit lebih lama. Aku sudah terlampau lelah dan rindu dengan kehangatan kasur di kos.

Kupercepat langkahku, mungkin setengah berlari hingga nafasku tersengal-sengal ketika sampai di ujung koridor. Syukur alhamdulillah, petugas on board rupanya tahu bahwa ada seorang penumpang sedang mengejar armadanya. Ia menantiku dengan sabar hingga aku masuk dan memojokkan diriku di pintu samping, lagi-lagi di area khusus wanita. Bus pun segera melaju ke Jalan Gatot Subroto menuju ke tujuan akhir Grogol.

Bangku kosong di area khusus wanita.

Berdiri di pojokan antara pintu dan pembatas bangku, membuatku lebih leluasa mengamati orang-orang. Meski waktu sudah menunjukkan pukul 21.32, tapi bus masih tetap penuh. Para penumpang itu, mereka sama denganku, sama-sama lelah memperjuangkan hidup di ibukota. Beberapa orang terlihat tidur nyenyak di kursi atau dengan tangan yang masih bergelantungan di lorong. Ada yang dengan santai menancapkan earphone di kedua telinga dan sayup-sayup musiknya ikut kudengar. Ada juga yang menonton drama korea dengan asyiknya sampai lupa harus turun di halte berikutnya.

Di Halte Gatot Subroto LIPI, masuk serombongan mbak-mbak berkalung ID-card yang segera kuketahui mereka bekerja di sebuah platform belanja online berwarna oranye. Mereka pun ngobrol dengan serunya. Sepertinya habis menang tender. Atau mungkin sedang membicarakan konser Sam Smith yang belum lama itu diadakan di Singapore Indoor Stadium. Atau bisa jadi mereka baru saja dapat bonus tahunan, maklum kala itu adalah akhir tahun. Atau kemungkinan lainnya, salah seorang teman baik memintanya untuk menjadi bridesmaid. Entahlah, yang pasti mereka terlihat cukup berbahagia pada malam itu.

Oh, jangan tanyakan aku bagaimana kehidupan kaum lelaki di dalam bus. Sebab, aku tidak sudi bersinggungan dan berdesak-desakkan bersama mereka. Aku tidak ingin sesuatu terjadi padaku, lantas aku membuat thread di Twitter supaya para aktivis feminis ikut mendukungku, mencaci para penjahat kelamin lalu berkoar-koar bahwa perempuan rentan mendapat pelecehan seksual di transportasi umum. Tidak, terima kasih. Aku masih cukup waras melindungi diriku sendiri dengan menutupi sebagian wajahku dengan masker dan memilih berdiri di area khusus wanita. Ponsel pintar pun kukeluarkan dari tasku, hanya agar aku tidak bosan menanti sembari mengamati kegiatan teman-temanku melalui Instagram Story. Meski akhirnya aku tetap saja merasa bosan, sementara perjalanan masih lumayan jauh.

Jalan S.Parman terlihat lengang di hari libur.

Pukul 21.48, bus yang kutumpangi telah sampai di Halte Slipi Kemanggisan. Aku pun bergegas keluar dan mencari ojek lewat aplikasi Go-Jek. Cukup lama aku menunggu hingga ada seorang driver yang mem-pick order-ku. Seandainya kosku berada di pinggir Jalan Kemanggisan Utama which is  berada di dekat halte, aku pasti tidak perlu repot-repot membalas chat driver yang masih saja bertanya di mana posisiku meski sebetulnya aku sudah memberikan catatan kecil pada PickUp Location. Dengan malas, aku membalas "Kolong Slipi Jaya ya bang, di belakang bajaj, depan pos pantau, di sebelah tukang ketoprak".

Ah, dasar orang-orang yang terlalu baik.

*****

Sopir Go-Car membelokkan mobilnya ke arah Jalan Medan Merdeka Timur, langsung menuju Stasiun Gambir. Ia menge-drop-ku di pintu khusus pejalan kaki, lantas membantuku mengeluarkan koper dari kursi belakang. Ucapan terima kasih singkatku dibalas olehnya "Hati-hati ya neng, semoga sukses" lalu ia bergegas memacu mobilnya ke kantor sebab ia tak ingin kena omelan si bos China.

Tiba-tiba saja langkahku terasa berat. Bukan karena kerepotan sebab harus menggeret koper yang besarnya menyamai kulkas, tapi aku tidak menyangka secepat ini akan segera pulang. Dengan hati-hati, aku berjalan menuju pintu masuk. Syukurlah, ada seorang porter melihatku sedang menyumpah-nyumpah karena langkahku terhambat, lantas ia bergegas membantuku menggeret koper ke dalam stasiun.

Para penumpang sedang menanti kereta di peron 2.

Kami pun berjalan menuju konter Check In. Karena sudah memiliki e-boarding pass di aplikasi KAI Access, aku tidak perlu repot-repot harus mencetak boarding pass dulu seperti orang-orang. Akhirnya, aku bisa berkontribusi mengurangi penggunaan kertas, meski aku juga harus rela kehilangan secuil kesempatan untuk mendapatkan #TiketGratis dari KAI.

Setelah proses check in selesai, kami bergegas menuju lift untuk naik ke lantai 3 menuju peron 4. Kala itu waktu masih menunjukkan pukul 07.25, sementara kereta Taksaka Pagi yang akan kutumpangi dijadwalkan berangkat pada pukul 08.30.

Masih ada waktu satu jam untuk menunggu.

*****

Senja yang kupotret dari Halte Slipi Kemanggisan.

Sejak memutuskan merantau ke ibukota, aku sudah bertekad untuk menggunakan transportasi umum (baca juga: Pengalaman Tidak Terlupakan Naik Angkutan di Jakarta). Selain tarifnya yang murah, aku juga tidak perlu misuh-misuh di jalanan yang macet. Sekali waktu aku pernah mengendarai motor menuju kantorku yang berada di Kuningan. Jarak antara kos dan kantor memang tidak terlalu jauh, hanya saja aku tidak ingin mood-ku berantakan ketika sampai di kantor.

Suatu ketika, tetangga kosku yang juga tetangga di rumah, mengajakku jalan-jalan keliling naik busway. Sebetulnya sih, nggak jalan-jalan sebab ia hanya ingin mengetahui rute perjalanan menuju kantornya yang berada di Rawamangun. Ia sering sekali mengeluh kepadaku. Ia capek mengendarai motor pulang-pergi. Ia capek menghadapi kemacetan di Manggarai. Ia juga capek menunggu hujan reda, sebab tak ingin basah kuyup ketika sampai di kosan.

Kami pun menaiki jalur 4A rute Grogol-TU Gas dari Halte Slipi Kemanggisan. Siang itu, bus nyaris kosong. Hanya ada empat penumpang sedang duduk ketika kami masuk. Kami pun duduk persis di belakang sopir dengan posisi kursi berhadapan, bukan searah jalannya bus. Jujur, posisi duduk seperti ini malah membuatku leherku pegal dan tengeng, sehingga dalam beberapa menit sejak bus berangkat aku memutuskan untuk berdiri saja.

Bus ini rupanya membawaku ke dunia lain. Ketika bus menuju ke Halte Karet Sudirman, aku takjub dengan pemandangan gedung-gedung tinggi di kanan kiriku. Kampungan. Ndeso. Udik. Tiga kata yang sering disematkan kepada orang-orang yang mengagumi modernitas. Terutama bagi perantau sepertiku, area Sudirman-Thamrin seakan begitu elit dan elegan di mataku.

Bus kembali membawaku ke dunia lain yang berikutnya. Kali ini ke Jalan Imam Bonjol. Entah kenapa, suasana di sini berbanding terbaik dengan gemerlap Thamrin-Sudirman. Di sini, aku hanya menemui rumah-rumah vintage, taman kota yang begitu apik, dan tata kota yang teratur. Tak ada kemacetan—atau mungkin karena libur—meski kendaraan ramai berlalu lalang.

Rute selanjutnya adalah Jalan Diponegoro dilanjut ke Jalan Salemba Raya dan Jalan Pramuka. Lagi-lagi, bus ini membawaku bertualang ke dunia lain yang lebih liyan. Tak ada lagi rumah-rumah bergaya neoklasik apalagi gedung-gedung pencakar langit. Yang terlihat hanyalah deretan ruko, berjejer rapi seolah hendak menarik hati para calon pembeli. Kendaraan juga berlalu lalang sangat cepat seperti dikejar-kejar oleh waktu. Sesekali bus terpaksa menurunkan kecepatan karena macet, hanya sebentar, sebab bus kembali melaju kencang di jalur khusus Transjakarta.

Ketika melewati Jalan Pemuda, kutengok arlojiku. Tak terasa sudah hampir satu jam aku berada di dalam bus. Sebentar lagi, aku akan sampai pada tujuan akhir, yaitu Halte TU Gas.

Sementara itu, tetanggaku bertanya hendak pergi ke mana lagi sebab ia kemudian merasa lapar. Ia menawariku dua pilihan, apakah ke AEON Garden City atau FX Sudirman? Aku pun berpikir. Jika ke AEON maka kami harus menumpang GrabCar untuk menuju ke sana, tidak melanjutkan perjalanan lagi dengan busway. Itu berarti bakal ada ongkos tambahan padahal waktu itu aku sedang tidak membawa uang banyak. Sedangkan, kalau ke FX Sudirman, kami hanya perlu menanti bus ke arah Dukuh Atas dan berganti jalur ke arah Blok M di Halte Karet Sudirman menuju Halte GBK.

Baiklah, pilihan kedua lebih menguntungkan. Toh, kami hanya perlu duduk manis di dalam bus.

*****

Para penumpang Argo Parahyangan yang baru saja tiba dari Bandung.

Stasiun Gambir terlihat lengang. Padahal hari itu adalah hari Rabu. Dari bangku peron 4, kulihat kereta Argo Parahyangan baru saja tiba dan segera penumpang di dalamnya membludak keluar. Beberapa rombongan keluarga terlihat rempong membawa bawaan, lantas bergegas menuruni tangga ke arah pintu keluar. 

Di sudut lain, aku lihat ada beberapa penumpang sedang asyik menunduk. Entah apa yang sedang dibacanya. Di sisi kananku, ada sebuah lift yang biasanya digunakan untuk penumpang lansia dan disabilitas. Kadang-kadang penumpang "normal" sepertiku juga mesti melewati lift tersebut mengingat barang bawaan yang terlampau berat, sehingga tidak memungkinkan untuk dibawa dan naik dengan eskalator.

CommuterLine atau KRL melintasi Stasiun Gambir menujuk Stasiun Jakarta Kota.

Jam tangan kesayanganku sudah menunjukkan pukul 07.40. Dari bilik informasi, petugas KAI mengumumkan bahwa kereta Argo Dwipangga tujuan Solo Balapan akan tiba sebentar lagi. Kereta tersebut memang dijadwalkan berangkat pukul 08.00, tapi penumpang sudah hilir mudik menanti di depan peron. Tak terkecuali para porter yang tengah bersiap membawakan barang bawaan mereka.

Pukul 08.00 tepat kereta Argo Dwipangga diberangkatkan. Peron yang tadinya ramai menjadi sedikit lengang, meski beberapa saat kemudian penumpang kembali berjejalan. Namun bedanya, kali ini adalah penumpang Taksaka. Para porter pun kembali menawarkan jasanya, siapa tau rezeki mereka dititipkan kepada orang-orang yang hendak berplesiran ke Jogja.

Tiba-tiba saja aku gelisah. Entah karena sebentar lagi aku akan segera meninggalkan Jakarta. Atau bisa jadi aku hanya khawatir karena tidak kunjung melihat sosok porter yang tadi membantuku membawa koper. Waduh, males banget kalo gotong-gotong koper sendirian ke dalam kereta, batinku.

Tepat pukul 8.25 kereta Taksaka telah tiba. Dan tiba-tiba saja Pak Porter yang kucari-cari muncul di hadapanku, bersiap mengangkat koperku. Kusampaikan padanya bahwa kursiku ada di gerbong enam. Tak butuh waktu lama untuk berpindah tempat, dari kursi peron, ke kursi jomblo di dalam kereta. Usai meletakkan koperku di belakang kursi—soalnya nggak muat kalau ditaruh di bagasi atas—kuucapkan terima kasih kepada Pak Porter sembari menyelipkan beberapa ribu rupiah di tangan kanannya.

Kereta Taksaka siap mengantarku pulang ke Jogja.

Mataku tiba-tiba sembab. Sungguh, aku akan merindukan kota ini. Enam bulan menggantungkan hidup di ibukota, rupanya cukup untuk membuatku paham bahwa kota ini memang menawarkan segala kemudahan. Gedung-gedung pencakar langit di berbagai sudutnya seolah tak ingin berhenti bersaing, menentukan siapa yang paling tinggi dan bermartabat, tatkala orang-orang yang hidup dan mengais rezeki di pinggiran kali sudah merasa cukup dengan rumah sepetak. Takkan kudengar lagi suara cempreng bocah-bocah kampung berdzikir subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah kala adzan baru saja berkumandang.  Takkan kutemui lagi bocah-bocah di mall yang fasih menyebut mommy daddy kepada ayah ibunya yang berwajah pribumi, china maupun indo.

Teringat mbak-mbak penjual pecel asli Blitar yang setiap pagi menyapaku dan memberiku ekstra peyek jika kebetulan aku dititipi sarapan oleh teman-teman sekantor. Ada pula nasi uduk dan nasi kuning di samping masjid yang terkenal murah dan enak. Dan di ujung gang kosku, ada warteg dengan masakan khas Jawanya, sehingga aku selalu merasa berada di rumah. Oh ya, gorengan tempe dan tahunya juga selalu kunanti dan kuanggap paling nikmat apalagi dimakan selagi hangat.

Semua memori itu berputar-putar terus di kepalaku. Senyumku makin getir. Dan tiba-tiba saja petugas meniupkan peluit, tanda bahwa kereta yang kutumpangi segera berangkat. Perlahan tapi pasti, ia bergegas mengantarku pulang menjemput asa.

Enregistrer un commentaire

WhatsApp Button fonctionne uniquement sur les appareils mobiles

Commencez à taper et appuyez sur Entrée pour rechercher