12 janvier 2019

Pak Kampret, Masa SD, dan Kuliner Legendaris di Kotabaru

Anak SD sedang jajan telur burung puyuh goreng.
Sumber: foodigan
Gentan dan Pak Kampret
"Gentan... Gentan... Gentan..."
Suara itu terasa akrab sekali di telingaku. Suara khas penjual mainan setiap kali mobil papaku melintas di depan gerbang SDN Serayu Yogyakarta.

Pak Kampret, begitulah orang-orang memanggilnya. Beliau adalah penjual mainan yang tidak pernah absen mangkal di depan sekolah. Usianya memang tak lagi muda, giginya bahkan sudah ompong di sana sini, tetapi beliau masih tetap energik dan selalu ramah menyapa murid-murid di sekolahku. 
Yang paling kuingat dari sosok beliau adalah topi safari hitam berikut dengan kacamata hitamnya yang nampak serasi dengan karakter kocaknya. Tak lupa, ada cincin batu akik yang melintang di beberapa jarinya. Duh, pasti sakit banget kali ya kalo sampe kepentok cincinnya beliau?

Aku ingat banget, dulu pas SD, pas lagi zamannya tukeran isi binder, aku sering banget nyetok isi binder lucu-lucu dari Pak Kampret. Kalo nggak salah, dulu Rp 500 udah dapet 2 lembar. Tapi kalo isi bindernya merk Harvest cukup Rp 500 dapet 1 lembar. Waktu tamiya dan crush gear lagi happening pun, aku ikut-ikutan beli di tempat Pak Kampret. Lain waktu, aku pun tertarik membeli Tamagochi supaya bisa memelihara hewan virtual seperti teman-teman lainnya. Ah, betapa beliau sungguh berjasa dalam permainan masa kecilku.

Tapi, Pak Kampret ini bukan hanya penjual mainan aja lho! Beliau bahkan lebih dikenal sebagai "satpam" sekolah karena dedikasinya yang tinggi. Pada jam pulang sekolah, beliau selalu dengan sabar membantu bocah-bocah yang ingin segera ke seberang sekolah karena sudah dijemput oleh orangtuanya. Maklum lah, dulu bocah-bocah di sekolahku tuh ngglidhik atau agresif, ingin cepat menyeberang tanpa perlu melihat kanan-kiri. Padahal kan bahaya!

Pak Kampret adalah orang yang nyaris terakhir meninggalkan sekolah dibanding pedagang-pedagang lainnya. Malah kadang lebih akhir daripada bapak ibu guru. Beliau selalu menunggui anak-anak yang belum dijemput orangtuanya meski jam pulang sekolah sudah beberapa jam berlalu. Mungkin bagi beliau, anak-anak harus ada yang jagain kali ya karena namanya penculikan anak bisa aja terjadi di mana aja kan, bahkan termasuk di lingkungan sekolah? Duh, kok jadi serem gini bahasannya.

Dulu, aku pun termasuk salah satu murid yang bernasib pulang paling akhir. Bosan dan kesal karena menunggu papa atau mamaku jemput, akhirnya aku hanya bisa duduk terdiam di pojokan lorong kelas. Untung saja ada Pak Kampret, jadi aku tidak merasa sendirian.

Dan seperti biasa, apabila mobil papaku sudah ada di depan gerbang atau mamaku datang menjemput, pasti Pak Kampret akan berteriak "Gentan... Gentan... Gentan" dengan lantang sambil menghampiriku dan mengantarkanku sampai ke pelukan keduanya.

Kini, beliau memang telah tiada, berpulang kepada Yang Maha Kuasa, meninggalkan dunia selama-lamanya. Namun, kemurahan hati dan kenangannya akan selalu kukenang di dalam dada. Terima kasih Pak Kampret.

Nostalgia di Kotabaru
Sekolahku terletak di kawasan tua yang dulunya merupakan pemukiman elit bagi orang-orang Indische. Sejak dulu Kotabaru atau Nieuwe Wijk memang dirancang sebagai kawasan mandiri dengan kemudahan akses di setiap sudutnya. Hal ini bisa terlihat dari ruas-ruas jalannya yang saling terhubung satu sama lain. Yakin deh, di sini kamu nggak bakal tersesat karena semua jalannya terhubung sama jalan raya. Kamu juga nggak akan menemui gang-gang sempit apabila menyusuri area Kotabaru.

Perencanaan wilayah di Kotabaru ini emang berbeda dengan wilayah lain yang ada di Jogja. Umumnya, di Jogja, suatu wilayah menganut sistem pola arah mata angin. Namun, di Kotabaru perencanaan wilayahnya menggunakan konsep radial seperti yang diterapkan di Nederland.


Potret gerbang SDN Serayu Yogyakarta
Beralamat di Jalan Juwadi No. 02, SDN Serayu sejak dulu terkenal sebagai sekolahan bagi orang-orang "elit". Bukan bermaksud sombong atau besar kepala, tapi kenyataannya sekolah ini selalu menjadi salah satu sekolah dasar favorit. Banyak orangtua berbondong-bondong mendaftarkan putra-putrinya ke sini, tidak terkecuali orangtuaku. Ada desas-desus juga yang mengatakan kalo anak-anak pejabat daerah Jogja pun turut bersekolah di sini. Yang pasti sih, sekolahku ini emang bukan sekolah sembarangan. Lhawong letaknya strategis gitu.

Tentu aja bersekolah di sini memiliki banyak plusnya. Selain karena lingkungannya kondusif, di sini juga banyak sekali pedagang makanan yang menjual jajanan enak. Khas jajanan anak SD banget deh.
Ada siomay, ada cakwe plus saos pedes manisnya, ada telur gulung, ada telur burung puyuh goreng, ada Indomie yang dimakan bareng sama bungkusnya (jajanan ini nih yang sering dilarang sama emak-emak karena bikin nggak sehat!), ada tela krispi Tela-Tela aneka rasa, ada es soda Miranda dan Pepsi, ada es serut pake sirup warna warni (cikal bakal es kepal yang lagi hits itu lho), ada es klamud sirup pink, ada juga aneka tempura, ada pentol bakso ngeng, duh banyak banget deh pokoknya!

Tentu bukan tanpa alasan kenapa banyak pedagang memilih menjajakan dagangannya di lingkungan sekolahku. Salah satu alasan terkuat ya karena di sini adalah kawasan ramai anak sekolah. Yup, Kotabaru memang terkenal dengan sekolah-sekolah favorit. Sebut saja SMPN 5 Yogyakarta dan SMAN 3 Yogyakarta yang akrab disebut Padmanaba. FYI, bngunan kedua sekolah ini termasuk cagar budaya lho!

Oh ya, ada juga sekolah swasta yang dari zaman mamaku sekolah pun sudah terkenal, yaitu SMA BOPKRI 1 (BOSA). Nggak heran dong, kalo anak-anak sini tuh punya gengsi tersendiri. Malahan ada juga teman-temanku di SDN Serayu yang melanjutkan sekolah di kedua sekolah tadi. Batinku, apa nggak bosen ya sekolah di lingkungan situ-situ mulu? Hehe.

Cerita Masa SD
Masa SDku menyenangkan banget! Saking menyenangkannya aku sampai bingung hendak menuliskan yang mana dulu. Tapi, baiklah, aku coba merangkumnya dalam beberapa hal saja ya.

Waktu kelas 3-4 SD, setiap Selasa sore, selalu ada latihan pramuka di lapangan belakang sekolah. Tapi kan dulu pulang sekolah itu jam 13.00 ya dan latihan pramuka itu jam 16.30 (tolong dikoreksi karena aku tuh lupa jam berapa), jadilah sebagian besar murid menjadi malas pulang. Entah karena jarak rumah dan sekolah yang jauh atau ya karena males aja bolak-balik. Demi menanti datangnya waktu pramuka, aku dan beberapa teman pun memutuskan stay di sekolah sambil main permainan apa saja yang bisa kami mainkan. Misalnya, main kasti dan basket di lapangan atau main monopoli dan ular tangga di lorong kelas. Pas lagi demen-demennya dengan olahraga catur, kami pun bertanding catur secara bergantian. Malahan ada juga beberapa teman yang membawa bola bekel dan kelereng. Yah, maklum masa itu belum ada Mobile Legend atau PUBG sih. Kadang-kadang aku dan beberapa teman juga main ke rumah seorang teman untuk numpang bobok siang, makan siang dan mandi di sana sembari menunggu waktu pramuka.

Nah, waktu kelas 4 & 5 SD, kelas olahraga mewajibkan murid-muridnya untuk praktek berenang.  Biasanya kami berenang di Umbang Tirto Kridosono, yang paling dekat dengan sekolah dan bisa dijangkau hanya dengan berjalan kaki. Tapi, entah kenapa aku tuh nggak suka pelajaran berenang. Dibanding olahraga lainnya, aku selalu kehilangan antusias setiap pelajaran olahraga. Ditambah lagi, aku sempat 'trauma' karena ulah beberapa anak usil, makanya sampe sekarang aku nggak bisa renang :(

Sebagai bagian dari generasi milenial, sejak SD aku sudah mulai mengenal gadget. Bahkan aku punya hp pertama kali itu di kelas 4. Hp pertamaku adalah Nokia 2600. Dulu tuh seneng banget punya hp, berasa keren, masuk dalam kategori anak gaul. Apalagi hpnya punya game Bounce dan Snake versi berwarna.

Nokia 2600
Kalo dipikir-pikir, ngapain sih dulu merengek-rengek minta dibelikan hp toh ya nggak dipake apa-apa. Beli pulsa aja cuma buat memperpanjang masa aktif SIM. Tapi dulu subsidi pulsaku banyak banget. Sekali isi bisa Rp 50ribu atau Rp 100ribu. Sekarang mah boro-boro punya pulsa banyak. Bisa paketan sebulan aja udah alhamdulillah.

Meskipun begitu, aku termasuk siswa yang "telat" punya hp lho! Soalnya pas kelas 3 SD aja ada temenku yang udah punya hp. Bahkan hpnya hp idaman banget, yaitu Nokia N-Gage dan Nokia N-Gage QD. Hp ini sempet hits bangeeet karena katanya enak banget kalo dipake ngegame. Game yang paling terkenal waktu itu adalah Sonic the Hedgedog.

Mbak-Mbak Penjaga Butik Kayla
Di sebelah kantin bakmoy, ada sebuah butik kecil yang diberi nama Kayla. Mungkin ukuran butiknya hanya 4x5m saja, tapi sudah cukup membuatku dan teman-teman betah berkunjung ke sana. Kadang-kadang sambil menanti waktu latihan pramuka, aku dan teman-temanku "main" sambil mengobrol dengan mbak-mbak penjaga tokonya.

Saking akrabnya kami dengan mbak-mbaknya, mereka bahkan mempersilakan kami untuk mencoba beberapa baju koleksinya. Ya pastinya kami seneng banget dong! Kami pun bergerilya mencari baju yang pas untuk dipadukan dengan bawahan yang sudah kami incar sebelumnya.

Mungkin karena sudah terbiasa juga main ke Kayla, aku dan teman-temanku udah nggak sungkan lagi ganti baju dari seragam merah putih ke seragam pramuka di fitting room-nya. Bukannya nggak ada toilet atau ruang ganti di sekolah ya, tapi di sana ada ACnya sih, Pantas saja kami lebih senang ganti baju di sana. Cuma ya habis itu bau keringat di mana-mana. Hehe. Untungnya sih, si mbak langsung sigap menyemprot parfum supaya ruangannya tetap segar kembali.

Tapi tentu saja keakraban kami dengan mbak-mbak itu juga membawa keuntungan sendiri bagi butik.  Tidak hanya memperlihatkan kesan ramai saja, melainkan kadang ada beberapa ibu yang ikut berkunjung ke sana lalu membeli baju atau aksesoris. Ada juga beberapa teman yang kemudian membeli aksesoris seperti bros dan kalung dengan uang yang diberikan orangtua (aku sih yakin banget si anak ini pasti udah merengek-rengek ke orangtuanya).

Mamaku aja, ketika tau kalo aku tuh sering main ke Kayla, juga ikut-ikutan beli dompet di sana. Bisa jadi mamaku membeli sesuatu di sana karena nggak enak kok anaknya nyobain baju terus di sana sampai nebeng ganti seragam tapi nggak beli apa-apa. Atau mungkin karena mamaku merasa barang di Kayla bagus sehingga ia tertarik untuk membelinya. Entahlah. Yang jelas aku senang sekali bisa bersahabat dengan mbak-mbak penjaga Butik Kayla.

Harry Potter dan Kegilaan-Kegilaan tentangnya
Belum lama ini, aku lagi kegirangan karena serial Harry Potter sudah ditayangkan di layanan Iflix. Meskipun udah berkali-kali menonton, tapi aku nggak pernah bosan! Ada aja hal-hal yang masih bikin deg-degan dan pensaran, padahal ya udah tau isi filmnya seperti apa.

Pertama kali kenal dengan Harry Potter itu waktu kelas 3 SD. Berhubung sejak TK aku sudah berlangganan majalah Bobo, saat itu Bobo juga sedang gencar memberitakan apa saja yang berhubungan dengan Harry Potter. Bahkan di beberapa edisinya, Bobo juga memberikan bonus merchandise seperti stiker, postcard, poster, isi binder sampai pembatas buku. Semuanya berbau Harryy Potter.

Nggak cukup sampai di situ aja. Aku bahkan sampai merengek-rengek ke mamaku supaya dibelikan majalah Bobo Edisi Khusus Harry Potter! Alasannya simpel aja, ya karena nggak mau ketinggalan berita soal Harry Potter. Padahal baca novelnya saja belum, baru keturutan pas SMP. Itupun aku hanya punya novel seri ke-6 dan ke-7nya, hadiah ulang tahun yang dibelikan papaku setelah aku merengek-rengek minta dibelikan buku baru, sehingga tentu saja aku belum baca novel pertama hingga ke-5nya, sampai sekarang.

Kedua majalah ini masih kusimpan rapi di rak bukuku lho!
Selain Bobo Edisi Khusus Harry Potter, aku juga pernah bela-belain beli majalah Cinemags HANYA DEMI MENDAPATKAN TONGKAT SIHIR LORD VOLDEMORT. Sebenernya, majalah Cinemags isinya lebih banyak membahas tentang film yang nggak terlalu menarik buatku, tapi karena salah satu edisinya memberikan bonus tongkat sihir, walhasil majalah ini sempat langka di pasaran. Tapi untunglah, aku berhasil mendapatkan ini setelah mamaku harus repot mencari ke semua loper koran atau tukang majalah yang dia kenal.

Majalah yang wajib dipunya oleh Pottermore
Jujur, padahal sampai sekarang aku pun masih bingung kegunaan tongkat sihir itu tuh untuk apa selain dijadikan pajangan di meja bejalarku. Mungkin ada fans Harry Potter yang hendak memberiku saran supaya tongkat tersebut menjadi lebih berfaedah dan barokah? Aku kan muggle, jadi ya mana bisa dipake buat mainan sihir.

Nasi Bakmoy, Sang Simbol Kerukunan
Selain jajanan yang ada di depan gerbang sekolah, ada salah satu makanan istimewa yang juga menjadi favorit para siswa Kotabaru, yaitu nasi bakmoy. Menu bikinan kantin di seberang sekolahku ini hits banget sih. Selain rasanya yang enak, porsinya juga cukup mengenyangkan buat anak SD seusiaku dulu.

Mungkin banyak yang nggak tau kalo sebenernya nasi bakmoy ini adalah salah satu makanan khas Jogja lho!  Menurut sejarah, nasi bakmoy ini merupakan hasil alkulturasi budaya Tiongkok dengan Jawa. Dari namanya, sekilas kita akan mengira bahwa makanan ini mengandung daging babi. Tapi tenang saja, nasi bakmoy yang kumaksud ini lebih banyak menggunakan daging ayam kok.
Dulu sih, nasi bakmoy emang pake daging babi. Tapi karena mayoritas masyarakat Jogja itu muslim, maka digantilah dengan daging ayam. Toh, rasanya tetep enak.

Nasi bakmoy
Masyarakat Jogja itu kan tipe orang yang doyan makanan manis ya, makanya nasi bakmoy punya rasa yang cenderung manis (mirip semur gitu) dan lebih sering disajikan dengan sambal kecap. Tak lupa, ada tambahan gorengan seperti tempe goreng yang bikin suapanmu makin nikmat! Oiya, di beberapa tempat, nasi bakmoy juga disajikan dengan telur rebus bumbu bacem. Tapi, kalo di kantin depan sekolahku, nasi bakmoynya nggak pake telur sih. Hehe. Paling cuma nambah kerupuk biar makin sedap.

Sayangnya, kantin ini cuma buka sampe sore aja. Menyesuaikan dengan jam pulang para siswa. Kadang-kadang saat jam makan siang, nasi bakmoynya bisa cepat ludes.

*****

Saat aku menulis ini, aku teringat bahwa ketika kecil dulu aku sangat ingin menjadi orang dewasa. Sebab, menurutku orang dewasa bisa melakukan segalanya. Namun, ketika sudah dewasa, kadang kala aku justru ingin kembali ke masa kecil, ke masa yang tidak pernah memikirkan masalah apapun selain membuat PR dan main bersama teman-teman.

Tapi, hidup akan terus berjalan bukan? Oleh sebab itu, melalui tulisan ini, aku bagikan rasa rinduku pada masa kecilku supaya aku yang telah dewasa selalu ingat untuk bersyukur dan berbahagia dengan segala alasan yang ada.

Enregistrer un commentaire

WhatsApp Button fonctionne uniquement sur les appareils mobiles

Commencez à taper et appuyez sur Entrée pour rechercher