6 mai 2018

Cerita Tentang Kehilangan dan Penyintas Luka

dok. pribadi

Seorang bijak pernah berkata, "Bagaimana mungkin kau mengatasi kehilangan kalau kau tidak bisa berdamai dengan dirimu sendiri?". Aku rasa, kalimat itu benar adanya. Sebab, di dalam novel ini kau akan menemui banyak sekali cerita kehilangan. Kehilangan akan persahabatan, akan kehangatan rumah,  dan tentu saja kehilangan akan cinta dari seorang kekasih.

Awalnya aku pikir, Laut Bercerita hanyalah cerita tentang kehidupan bahari atau segala sesuatu yang berhubungan dengan laut. Mungkin saja isinya bakal membosankan. Tapi, ternyata anggapanku salah besar. Buku ini justru menjadi salah satu buku yang mengubah pandanganku terhadap banyak hal. Salah satunya mengenai arti kemanusiaan.

Seperti judulnya, buku ini memang benar-benar bercerita tentang seorang pemuda yang bernama Biru Laut. Ia adalah seorang mahasiswa Sastra Inggris dari kampus Bulaksumur Yogyakarta. Cerita dimulai ketika Biru Laut bertemu dengan Kinan di sebuah fotokopian tempat mereka melakukan "dosa". Dosa yang dimaksud tentu saja menggandakan buku-buku kiri termasuk novel Pramoedya Ananta Toer yang fenomenal. Berawal dari situlah, kegiatan Laut bersama kelompok Winatra dimulai.

Winatra tidak hanya menggelar diskusi rutin saja, melainkan juga ikut 'turun ke lapangan' dengan membantu kelompok tani memperjuangkan haknya. Aksi yang menurut mereka sebagai bentuk protes atas kekuasaan pemerintah yang sewenang-wenang ini ternyata justru membawa mereka kepada kecemasan. Mereka harus selalu waspada karena di mana-mana banyak intel mengintai. Berbagai penyamaran mereka lakoni, hidup nomaden pun menjadi pilihan hanya demi menghindari aparat.

Tapi toh, pada akhirnya Laut dan teman-temannya tertangkap juga. Laut, Daniel, dan Alex ditangkap di rumah susun di daerah Klender. Sedangkan kawan lainnya bergegas menyusul.

Laut bersama keenam temannya harus menjalani hari-hari suram di sebuah markas. Tidak hanya diinterogasi saja, mereka pun harus mengalami pedihnya berada di 'neraka dunia'. Pada bagian ini, aku merasa begitu marah sekaligus menyadari bahwa pada suatu masa kebebasan menjadi barang sangat mewah. Bahkan lebih mewah dari kehidupan.

Aku salut dengan Leila, sebab ia dengan apik mendeskripsikan siksaan seperti apa yang dialami oleh Laut dan teman-temannya. Tapi bagiku, masih ada yang lebih menyakitkan daripada penyiksaan, yaitu pengkhianatan. Bagi Laut, pengkhianatan adalah sejahat-jahatnya penyiksaan. Kau bisa saja sembuh dari luka fisik, tapi perasaan kecewa akibat dikhianati akan terus terpatri dalam benakmu. Kau bisa saja tetap hidup setelah lelah menjalani penyiksaan fisik, tapi jiwamu bisa mati ketika tahu temanmu ada yang mengkhianatimu. Dan itu tidak mudah disembuhkan.

Keputusan Leila menyajikan novel ini dalam dua sudut pandang adalah keputusan yang bijak. Meski pada bagian Biru Laut, aku sempat merasa bosan, tapi Leila mampu menyajikan cerita dengan sangat ciamik pada bagian Asmara Jati. Pada bagian ini, emosiku benar-benar 'dipermainkan'. Dengan sedikit mendramatisir, Leila juga mampu memaparkan arti kehilangan dan penyangkalan. Tak kuasa, air mataku tiba-tiba sudah menetes saja.

Aku tahu rasanya kehilangan. Tapi rasanya kehilanganku tidak berarti apa-apa ketimbang Asmara. Selain merasa terpukul dengan ketiadaan sosok seorang kakak, ia juga harus berhadapan dengan penyangkalan. Bapak Ibunya masih saja menganggap Mas Laut masih ada. Setiap Minggu, Ibu selalu memasak tengkleng kesukaan Laut, tak lupa Bapak menyiapkan piringnya di tempat Laut biasa duduk. Sementara Asmara harus bergelut dengan perasaannya sendiri. Bagaimana ia harus meyakinkan Bapak Ibunya bahwa Mas Laut sudah tiada, tapi ia sendiri merasa kehilangan yang teramat sangat. Sebab, ia tidak hanya kehilangan kakak yang paling disayanginya, tapi ia juga kehilangan sosok kedua orang tua yang dikasihinya.

“… Ibu dan Bapak sudah terjebak selamanya dalam bentuk keluarga yang dikenalnya, di mana Biru Laut adalah anak sulung dan aku adalah anak bungsu. Mereka tak akan pernah bisa menerima kenyataan bahwa Mas Laut hilang, diculik, dan mungkin saja dia sudah tewas dibunuh. Ibu dan Bapak percaya suatu hari Biru Laut tiba-tiba muncul di depan pintu rumah dan bergumam dia lapar dan mungkin akan bermain tebak bumbu dengan Ibu sambil memejamkan matanya. Hingga kini Ibu dan Bapak masih tak membolehkan siapa pun mengganggu dan menyentuh kamar Mas Laut kecuali jika ingin membantu mereka membersihkannya. Bapak dengan setia masih menyediakan empat piring setiap hari Minggu karena siapa tahu ‘Mas Laut muncul dan kelaparan’.” (hlm. 262) 

Membaca kisah Asmara Jati memang membuat perasaanku campur aduk, terlebih ketika membaca surat-surat Asmara yang tak pernah sampai kepada kakaknya. Tapi, kisah itulah yang justru menjadi 'penyembuh' luka dan kehilangan. Dengan pendekatan humanis, Leila mampu menyuguhkan cerita apa adanya dan jujur, sehingga pembaca pun ikut larut dalam keharuan.

Pun membaca buku ini tidak hanya kembali mengingatkan kita pada rezim Orba dan peristiwa 1998 yang menyebabkan hilangnya sembilan aktivis yang sampai detik ini tidak diketahui kabarnya. Lebih dari itu, Laut Bercerita juga mengajarkan kita tentang arti kehilangan dan luka yang sukar disembuhkan.

Enregistrer un commentaire

WhatsApp Button fonctionne uniquement sur les appareils mobiles

Commencez à taper et appuyez sur Entrée pour rechercher