7 février 2018

Nostalgia KKN



Beberapa waktu lalu, linimasa Twitter saya sedang ramai membahas sikap Ketua BEM Kampus Kuning yang mengangkat kartu kuning–kok ya bisa pas ya–kepada presiden ketika beliau sedang berpidato. Sontak, aksi antimainstream ini menjadi perbincangan, yang tentu saja tidak lepas dari nyinyiran dan hujatan netizen yang budiman. Hingga akhirnya, keriuhan itu ditanggapi oleh presiden dengan bermaksud untuk mengirimkan Ketua BEM tersebut ke Asmat, Papua. Sayangnya, penawaran menarik ini ditolak sama yang bersangkutan.

Dan baru saja, ketika pada akhirnya saya menulis ini, saya melihat update Instagram Story dari seorang teman yang berisi surat permohonan penempatan tim KKN di daerah Agats, Kabupaten Asmat, Papua. Surat yang ditandatangani dan disahkan oleh Bupati Asmat itu juga berisi nama seorang dosen yang sudah bersedia untuk menjadi dosen pembimbing lapangan (DPL) bagi mahasiswa yang akan melakukan KKN di sana. 

Jangan salah sangka dulu ya. Saya nggak akan berkomentar soal kartu kuning dan hubungannya dengan Asmat. Saya cuma pengen membagikan pengalaman saya selama KKN. Sebab, ternyata–meski dulu saya sebal sekali mengapa saya diwajibkan untuk KKN–ada beberapa hal yang saya rindukan. Bagi saya, KKN tidak sekadar nama dan kewajiban saja kok. Dan saya makin paham mengenai arti pengabdian kepada masyarakat. Tapiiiii kalo disuruh ngulang KKN sih, saya juga ogah. Hehehe.

Saya mengikuti KKN periode antarsemester pada tahun 2017 lalu. Kebetulan saya bergabung dengan tim KKN PPM JTM-09 dengan lokasi Desa Rejosari, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi. Gimana ceritanya saya bisa gabung dengan tim ini? Wah, kepanjangan ceritanya. Pokoknya saya bersyukur sekali karena akhirnya nggak KKN di Jogja. Ya, meskipun nggak dapat lokasi di luar Jawa seperti yang saya idamkan–karena saat itu saya sudah capek ikutan oprek sana sini–tapi toh banyak sekali pengalaman yang saya dapat selama KKN. Ditambah lagi, DPL kami sangat baik dan sering kali kami dipermudah untuk mengurus administrasi. 

Saya berangkat KKN tanggal 10 Juni malam, pas banget masih awal bulan puasa. Dan bisa dipastikan saya nggak bisa pulang merayakan Lebaran dengan keluarga. Sedih ya, apalagi ini pengalaman pertama saya jauh dari orang tua. Tapi, bukankah kesedihan itu adalah sebuah kewajaran ya?

Jadi, saya nggak sedih-sedih amat sih jauh dari keluarga. Kan di tempat KKN saya dapet keluarga baru juga.

Ketika sampai di lokasi KKN, saya merasa asing sekali. Canggung, bingung harus bagaimana. Namun, saya nggak butuh waktu lama kok untuk beradaptasi dan mengenal warga sekitar. Beda tempat, beda lingkungan, saat bulan puasa pun dusun tempat kami 'mondok' terlihat sepi. Beda sama suasana Jogja yang selalu rame. Nggak ada juga kebiaasaan buka bersama. Yang ada malah tahlilan atau selametan bareng.

Ada satu momen yang membuat saya terharu. Jadi, beberapa hari awal kami di sana, para warga sering memberikan kami makanan. Nggak tanggung-tanggung lho, makanan porsi 30 orang ini disiapkan oleh satu RT. Mungkin karena kami pendatang, maka makanan tersebut menjadi semacam "welcoming party" bagi kami. Kami memang belum kenal dengan semua warga, tapi rasanya sudah seperti keluarga yang menjaga kami. Ya siapa sih yang nggak seneng dikasih makanan? Kan jadi nggak usah repot-repot masak buat buka puasa to.

Persoalan pelik soal hidup dan tinggal bersama dalam jangka waktu lama tentunya–dan yang paling utama–adalah soal pangan. Mengingat di daerah tempat kami tinggal itu termasuk sepi, lebih-lebih ketika bulan Ramadan, jadi ya agak sulit saja jika harus mencari makan. Beda lah ya sama di Jogja, jam 4 sore aja pedagang udah gelar dagangan buat menu takjil atau buka puasa. Di sana, boro-boro, bisa nemu mas-mas jual KFC KW atau ibu-ibu jualan gorengan di pinggir jalan aja udah Alhamdulillah! Jadi, sesuai kesepakatan untuk menunjang kebutuhan perut, kami pun masak bersama. Meskipun demikian, di minggu-minggu terakhir kami KKN, ibu pondokan bersedia memasakkan untuk kami. Tapi tetep dibantu masak dong! Gitu lho etikanya. Ha kok le kepenak gari madhang. Karepe~

Hal unik lain yang saya temui selama KKN adalah soal bahasa. Orang Banyuwangi itu masih pakai bahasa Jawa kok, cuma beda banget sama Jawanya orang Jogja yang alus-alus. Suku Jawa bukan mayoitas gaes, ada juga suku Osing. Makanya komunikasi antarwarga dilakukan dalam dua bahasa, yaitu Jawa dan Osing. Kadang ada juga yang bilingual, pakai kedua bahasa tadi. Lha ini nih yang bikin mumet ndase, sebab ada aja kata-kata yang nggak saya pahami. Kalau sudah begini, karena nggak nyambung ya, jadi cuma bisa cengengesan aja dan obrolan pun langsung berganti format ke dalam bahasa Indonesia. Untungnya, warga juga paham bahwa tidak semua tim kami adalah orang Jawa, sehingga mereka pun lebih sering menggunakan bahasa Indonesia ketika bercakap dengan kami. 

Yaaaa tapi kalo saya sih, entah kenapa, lebih suka ngobrol pake bahasa Jawa. Apalagi teman-teman saya kebanyakan doyan ngobrol pake bahasa Jawa aksen jawa timuran. Yawis lah, selama 8 minggu itu, logat saya jadi sok-sokan jawa timuran. Bahkan masih kebawa juga setelah pulang. Kata-kata semacam “jancuk”, “kon”, “arek”, “iya ta”, “gak usah wis”, “nyapo”, “luwe”, “iku”, “ae”, “yo opo”, “ndek”, “uenak” dan teman-temannya bahkan sudah masuk dalam kamus saya, yang sewaktu-waktu bisa dipakai lagi. 

Mon maap ni kalo kasar ya, Tapi saya kan menganut prinsip bahwa kadar keintimanmu bersama teman itu diukur dari seberapa sering kamu berkata kasar kepadanya~ 

Karena saya anak Soshum, apalagi disiplin ilmu saya tidak bisa diterapkan secara mentah-mentah selama KKN, makanya program saya kebanyakan adalah mengajar. Sepertinya klise sekali ya. Seolah-olah program aman selama KKN itu kalau nggak sosialisasi ya ngajar.

Tapi plis deh. Ngajar itu nggak segampang ngomongnya, gaes. Kita mungkin bisa bilang dengan mudahnya bahwa mengajar itu sangat gampang. Halah mung ngajar anak SD. Tapi kenyataannya nggak gitu keles. Ha dipikir, nek ngajar ki gak nyiapne materine sek? Dipikir gak nyuwun izin kalih bapak ibu guru? 

Perpisahan kepada murid kelas 7.

Pelajaran "menanam pohon di langit" untuk kelas 7.

Salah satu momen mengajar yang nggak terlupakan itu ketika saya dan beberapa teman mendapat amanah untuk menjadi panitia MOS yang diselenggarakan di MTS Sirojul Hassan. MTs yang dimaksud sebenarnya adalah sekolah menengah swasta yang dikelola oleh yayasan. Ketika saya dan beberapa teman bertemu Pak Ustadz, pemilik yayasan, beliau bilang kalau ingin sekali menyelenggarakan pendidikan gratis untuk anak-anak dari keluarga kurang mampu. Saat tahun ajaran baru, beliau suka keliling dari desa ke desa untuk ‘mencari murid’. Tidak jarang beliau sampai memohon kepada orang tua agar anak-anak mereka 'diizinkan' melanjutkan sekolah. Menurut saya, wajar kalau Pak Ustadz melakukan hal tersebut karena kebanyakan anak-anak di lokasi KKN kami hanya berijazah SD-SMP. Sedikit sekali yang melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Ada yang memilih untuk bekerja sebagai buruh untuk membantu orang tua, ada juga yang memilih untuk menikah.

Menikah??? Iya. Umumnya orang tua yang memiliki anak perempuan, jika anak tersebut tidak melanjutkan sekolah pasti akan dinikahkan. Alasan lainnya kenapa banyak yang nggak melanjutkan sekolah, lagi-lagi, adalah soal biaya. Rata-rata penduduk di desa ini bekerja sebagai buruh. Selain itu, menurut Pak Selo, pemilik pondokan, kebanyakan warga memang suka yang simpel-simpel aja. Gampangannya, kalau bekerja bisa lebih cepat mendatangkan uang, lantas kenapa harus lama-lama sekolah? Mungkin seperti itu ya logikanya.

Hanya saja, pandangan ini dibantah oleh sebagian orang. Anak Pak Selo sendiri, perempuan, bahkan sedang menempuh pendidikan di Politeknik Banyuwangi, sementara teman-temannya sudah banyak yang menikah. Selain itu, ya sosok Pak Ustadz yang sudah saya ceritakan sebelumnya.

Menurut saya, Pak Ustadz ini adalah orang yang sangat gigih. Keikhlasannya itu lhoooo membuat saya terharu. Apalagi ketika beliau bilang, “Saya ingin mengusahakan supaya anak-anak tetap sekolah. Jadi, SPP, seragam sama buku kami gratiskan. Yang penting anak-anak tetap sekolah,”. Bayangkan aja, zaman sekarang egoisme dan sikap individualis itu sudah menjamur. Tapi ternyata masih ada juga lho orang yang memikirkan orang lain bahkan mengupayakan segala hal demi kebaikan orang tersebut.

Hormat dan kagum saya untuk Pak Ustadz. Panutan banget! Beliau juga pernah bilang ke kami, meski keuangan sekolah dikelola oleh yayasan, tapi beliau juga sering ikut ‘urun duit’ demi memenuhi kebutuhan sekolah. Mengelola sebuah sekolah aja udah susah lho gaes, apalagi jika harus mempertahannya agar tetap ramai oleh anak-anak yang sedang belajar. Salut banget lah sama Pak Ustadz. Dan saya makin percaya bahwa ternyata masih ada orang-orang baik di dunia ini. 

Awalnya, niat kami ke MTs tersebut adalah untuk meminta izin waktu mengajar. Mujurnya, kami malah diminta untuk menjadi panitia MOS untuk kelas 7 sekaligus membantu mengajar untuk kelas 8 dan 9. Ya sudah, dengan SDM yang terbatas, kami pun merancang kegiatan belajar yang edukatif dan interaktif. Biar anak-anak nggak bosen gitu. Nggak disangka, ternyata anak-anak sangat antusias. Bahkan nggak jarang mereka minta ‘lagi’ sampai kami kewalahan. Hehe.

Pembagian hadiah untuk pemenang turnamen dogde ball di MTs Sirojul Hassan

Foto tim panitia MOS MTs Sirojul Hassan dengan para murid.

Jujur nih, tadinya saya–dan mungkin yang lain juga–berpikir kalau mengajar anak-anak MTs ini pasti butuh ‘usaha ekstra’. Bukan bermaksud apa-apa ya, tapi saya paham bahwa lingkungan anak-anak ini sedikit berbeda. Asumsi saya, mungkin orang tuanya sibuk bekerja, sehingga anak-anak menjadi kurang diperhatikan. Makanya, kebanyakan murid sering mencari perhatian di luar, misalnya dengan bersikap usil dan susah diatur alias ngeyelan. Setiap kegiatan mengajar pasti ada saja anak-anak yang berbuat ulah, sehingga sering kami tegur. Ketika ditegur mereka bukannya anteng tapi malah makin berisik. Hehe wajar gaes, namanya juga lagi caper dan pas lagi masanya pula. Untuk menghadapi para remaja yang tengah mencari jati diri ini, tentunya kami juga harus sabar dong. Macak guru sek ta?

Meskipun demikian, mereka sangat semangat belajar lho! Memang sih, awalnya mereka terlihat canggung apalagi ketika harus berbicara di depan kelas. Tapi, lama-lama bisa kok! Mereka juga nggak sungkan lagi untuk bertanya dan seringkali malah kebanyakan bertanya. Hehe. Dari sini lah, saya jadi merasa bahwa tugas guru itu berat banget ya. Soalnya mereka nggak hanya memberikan kita pelajaran aja, tapi ya benar-benar mendidik bagaimana kita harus bersikap.

Sebetulnya, ada banyak sekali hal-hal yang ingin saya ceritakan, tapi rasanya blog ini tidak akan cukup untuk menggambarkannya (mungkin postingan selanjutnya ya). Hanya saja, sekarang saya sadar ternyata KKN yang dulu sering saya keluhkan ternyata membawa dampak besar di kehidupan saya. Saya jadi bisa mengenal orang-orang baru, saya lebih mampu untuk memahami orang lain, dan lebih peka dengan lingkungan sekitar. Dan bagi saya, membaur dengan masyarakat adalah sebenar-benarnya sebuah pengabdian, tidak hanya modal orasi doang tanpa pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi di masyarakat.

Enregistrer un commentaire

WhatsApp Button fonctionne uniquement sur les appareils mobiles

Commencez à taper et appuyez sur Entrée pour rechercher