17 septembre 2017

Menemukan Kembali Cinta yang Pernah Hilang


Ia tak tahu siapa namanya, tapi pesan mimpi itu jelas, ia harus menemui lelaki itu, dan lelaki itu cinta masa depannya. (hlm. 28) 

Pernahkah kamu begitu merindukan seseorang hingga ia hadir di dalam mimpimu? Kurasa hampir semua orang pernah mengalaminya.
Namun, pernahkah kamu memimpikan seseorang yang belum pernah kamu temui, lalu ketika terbangun dari tidurmu, tiba-tiba saja kamu sudah jatuh cinta kepadanya? Rasanya mustahil, tetapi jika kamu mempercayainya mungkin saja mimpi itu adalah pertanda.
Atau mungkin, bisa jadi mimpi itu hanyalah ilusi yang tercipta karena harapan-harapan yang terlampau tinggi. Sehingga, mimpi itupun menjelma menjadi sebuah omong kosong belaka.

***

Sebagai cerita pendek yang dijadikan tajuk utama, "Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi" tidak mengecewakan pembaca. Cerita ini sebenarnya sederhana saja, yaitu mengenai seorang perempuan bernama Maya yang ditinggal kekasihnya pada malam sebelum pernikahannya. Calon suaminya itu diketahui kabur dengan sahabatnya. Tentu saja, peristiwa itu membuatnya sangat terpukul. Bahkan karena merasa putus asa, Maya juga pernah mengiris pergelangan tangannya. Beruntung, ia masih bisa diselamatkan.

Sebulan semenjak peristiwa itu, Maya memutuskan untuk cuti dari perpustakaan tempatnya bekerja. Anehnya, Maya juga mendapatkan sebuah mimpi aneh. Dalam mimpinya, ia bertemu dengan seorang lelaki yang berlari dengan anjingnya di tepi pantai. Lelaki itu digambarkan sebagai seorang yang tampan dan mencintainya sepenuh hati. Sekali lagi, dalam mimpinya, Maya dan lelaki itu juga terlihat bahagia.

Awalnya Maya ingin mengabaikan mimpi itu, akan tetapi mimpi itu justru terasa semakin nyata. Akhirnya, Maya pun memutuskan untuk menemui lelaki yang ada di mimpinya. Ia pergi diam-diam dari rumahnya dan pergi ke kota kecil bernama Pangandaran. Di sanalah dia dipertemukan oleh Sayuri, seorang perempuan tua yang juga merupakan nenek dari Rana, lelaki yang juga ditinggal kekasihnya menjelang pernikahan, yang pada saat bersamaan tengah mengejar perempuan yang datang dalam mimpinya, yang bekerja di antara tumpukan buku di Jakarta.

Meski kumpulan cerpen ini adalah buku pertama Eka yang saya baca, tetapi menurut saya Eka memang piawai dalam mendongeng. Alasannya, saya tidak bosan membaca ke-15 cerpen di dalamnya, malahan saya justru menikmati alur ceritanya yang tidak terburu-buru. Selain itu, Eka juga pandai dalam memainkan berbagai sudut pandang. Misalnya saja pada cerpen berjudul "Cerita Batu", Eka menampilkan tokoh utama batu yang ingin membalas dendam. Di antara kalimat-kalimat sinisme yang ditonjolkan, sesungguhnya ada pesan moral dan bahan renungan yang ingin dibagikan Eka kepada para pembaca.  

Menurut saya, Eka termasuk pengarang yang tidak ingin terburu-buru mencapai klimaks. Hal ini terlihat dari cerita-ceritanya yang mampu menggiring rasa ingin tahu pembaca tanpa sedikitpun berusaha membocorkan inti dari cerita tersebut. Bahkan, terkadang pembaca bisa saja keliru menafsirkan akhir cerita. Duh, cerita Eka emang selalu penuh kejutan!

Dari semua cerpen dalam kumpulan cerpen ini, ada satu hal yang selalu ditonjolkan Eka, yaitu ironi. Ironi yang disampaikan juga bukan ironi yang besar. Malahan terkadang justru berkaitan dengan hal-hal sepele. Misalnya saja dalam cerpen "Gincu Ini Merah, Sayang".

Cerpen "Gincu Ini Merah, Sayang" menceritakan tentang seorang PSK bernama Marni yang bertemu dengan suaminya, Rohmat Nurjaman di sebuah bar. Karena saling jatuh cinta, mereka pun memutuskan untuk menikah. Mereka juga sepakat untuk tidak mengungkit-ungkit masa lalu masing-masing. Namun, suatu ketika, Rohmat menceraikan Marni secara sepihak, hanya karena Marni mengenakan gincu merah. Memang tak ada hubungannya antara gincu merah dengan keretakan rumah tangga mereka, sebab persoalan sesungguhnya adalah rasa saling percaya. Namun dalam cerita tersebut, seolah-olah gincu merah itulah yang menjadi sebab utama mengapa Rohmat menceraikan Marni.

Selain itu, persoalan lain yang ingin dipaparkan Eka juga amat sederhana, yaitu Rohmat Nurjaman tak ingin mengatakan kalau dirinya tidak suka melihat istrinya bergincu. Sementara, istrinya juga tidak mengatakan kalau dia hanya memakai gincu itu untuk suaminya saja. Sepele memang, tetapi Eka mampu merangkai cerita ini agar terkesan pelik yang pada akhirnya menyebabkan suami-istri itu berpisah karena ketidaktahuan mereka.

Lalu pada cerpen "La Cage Aux Folles" (sebenarnya saya tertarik membacanya karena judulnya yang berbahasa Prancis hehe) yang menceritakan tentang kehidupan transgender. Tokoh utama dalam cerpen ini adalah Marto atau Marni atau Martha yang merasa dirinya adalah perempuan. Ia tidak hanya memutuskan untuk mengganti kelaminnya saja, melainkan juga mengoperasi wajah dan menjadi biduan di restoran La Cage Aux Folles. Namun dalam cerita ini, meski saya sudah membacanya berulang kali, saya masih belum bisa menemukan siapa itu Kemala? Apa peranan dia di sana? Tokoh Kemala hanya diperlihatkan secara singkat melalui perdebatan-perdebatannya dengan Martha mengenai makna laki-laki dan perempuan.

Secara keseluruhan saya sangat menikmati kumpulan cerita pendek ini. Gaya berceritanya sangat lugas, alurnya juga tidak terburu-buru, sehingga pembaca dapat menikmati tanpa harus kepo dengan ending ceritanya. Selain itu, saya akui, Eka memang jago dalam hal penokohan, sebab ia banyak menggunakan sudut pandang yang diambil dari benda hidup maupun benda mati.

Enregistrer un commentaire

WhatsApp Button fonctionne uniquement sur les appareils mobiles

Commencez à taper et appuyez sur Entrée pour rechercher